Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Rabu (17/6/2026) meski pasar global masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat (AS) dan potensi perang dagang baru. Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai penguatan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang berlanjut apabila pemerintah mampu menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi dan mempercepat reformasi struktural.
Direktur PT Trijaya Pratama Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada kisaran Rp17.690-Rp17.728 per dolar AS.
“Rupiah berpeluang ditutup menguat pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Selasa (16/6/2026).
Sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp17.725 per dolar AS pada Selasa. Pelemahan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya mata uang Garuda menguat tajam 151 poin dan ditutup pada level Rp17.708 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pergerakan pasar global saat ini dipengaruhi perkembangan positif hubungan AS dan Iran. Kedua negara telah mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia.
Kesepakatan tersebut mendorong penurunan harga minyak dunia dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global. Harga minyak mentah Brent bahkan turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, sementara bursa saham global bergerak menguat seiring ekspektasi biaya energi yang lebih rendah.
Namun demikian, pelaku pasar masih menunggu rincian implementasi perjanjian tersebut karena proses menuju gencatan senjata permanen masih memerlukan negosiasi lanjutan.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Bank Sentral Jepang (BOJ) baru saja menaikkan suku bunga menjadi 1,0%, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Sementara itu, Bank Sentral Australia mempertahankan suku bunga di level 4,35%.
Pasar kini menanti hasil rapat Federal Reserve (The Fed) dan Bank of England (BoE), termasuk sinyal kebijakan dari Ketua The Fed Kevin Warsh terkait arah suku bunga AS.
“Data inflasi yang masih relatif tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini mulai berkurang,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengingatkan bahwa sentimen negatif masih datang dari potensi kenaikan tarif impor AS terhadap sejumlah produk Indonesia. Pemerintah AS disebut akan menerapkan tarif tambahan secara bertahap mulai 24 Juli 2026 melalui skema Pasal 301 Trade Act 1974.
Kebijakan tersebut berpotensi menekan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar AS, terutama untuk produk mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian jadi, serta berbagai produk manufaktur lainnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, menilai tren penguatan rupiah dan IHSG dapat berlanjut apabila pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal, kepastian regulasi, serta efektivitas pengelolaan APBN.
“Agar tren penguatan IHSG dan rupiah dapat terjaga, pemerintah perlu terus menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, serta pengelolaan APBN yang lebih efektif dan produktif,” ujar Rizal.
Menurutnya, penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan juga membutuhkan percepatan reformasi struktural, peningkatan investasi, penguatan sektor industri, serta perbaikan daya beli masyarakat guna meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Rizal memperkirakan IHSG berpotensi kembali menuju level 8.000 dalam rentang 12-18 bulan ke depan. Sementara nilai tukar rupiah diproyeksikan dapat pulih ke kisaran Rp16.500 per dolar AS dalam satu hingga dua tahun mendatang.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi kondisi global yang semakin kondusif, tren penurunan suku bunga global, serta konsistensi pemerintah dalam menjalankan reformasi ekonomi domestik.
“Penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila didukung oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” kata Rizal.
Ia menegaskan bahwa pemulihan IHSG dan rupiah tidak hanya bergantung pada sentimen pasar jangka pendek, tetapi juga sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

