Pekanbaru (tutur.co.id) – Menteri Lingkungan Hidup atau Kepala BPLH, Jumhur Hidayat, menyampaikan bahwa inisiatif pengelolaan sampah di Provinsi Riau melalui teknologi methane capture dan Refuse Derived Fuel (RDF) merupakan langkah baik yang perlu didorong bersama.
Salah satu lokasi fokus penanganan adalah TPA Muara Fajar II yang selama ini masih menerapkan metode open dumping.
“Ini inisiasi yang bagus, sehingga bisa berproses dalam waktu singkat untuk menjadi kenyataan. Kemudian untuk sampah plastik nanti sebagian bisa di reuse dan sebagian bisa dijadikan energi, RDF istilahnya,” ujar Menteri Jumhur dalam keterangan tertulis, Rabu, 6 Mei 2026.
TPA Muara Fajar II akan ditinggalkan secara bertahap dari sistem open dumping dan ditata ulang sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN.
KLH/BPLH mendukung pembangunan fasilitas methane capture di lokasi tersebut untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus membuka peluang pemanfaatannya sebagai energi alternatif.
Timbulan sampah di Riau mencapai 3.818 ton per hari, namun baru sekitar 16% yang terkelola optimal. Selain itu, sekitar 75% TPA masih menggunakan sistem open dumping yang berpotensi mencemari lingkungan.
Teknologi RDF menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada TPA.
“Kita harus mendukung semua upaya untuk memastikan sampah itu bisa dikelola dengan baik dan membuat kita semua menjadi orang normal lah kalau kita tidak diganggu oleh sampah,” tegas Menteri Jumhur.
KLH/BPLH berkomitmen mendampingi Pemprov Riau mengakhiri praktik open dumping secara permanen.

