Oleh: Z. Arifin Junaidi
Iduladha datang lagi. Di saat Iduladha seperti ini, biasanya umat Islam baru teringat kepada Bapak para Nabi, Khalilullah Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Mereka yang teringat pun banyak yang tidak sempat merenungkan keagungan pengorbanan kedua nabi itu, apalagi sambil membandingkan kesiapan diri berkorban.
Nabi Ibrahim sudah lama sekali ingin mempunyai keturunan yang dapat melanjutkan perjuangannya. Baru setelah sangat sepuh beliau dikaruniai Ismail. Kita dapat membayangkan, betapa gembira dan bahagianya. Namun setelah si anak terlihat membanggakan, seperti sudah kita ketahui, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya.
Bagi umumnya kita, kehilangan anak saja sudah merupakan malapetaka, apa pula dengan menghilangkan anak yang nota bene sudah lama didambakan dan diidam-idamkan. Adakah keikhlasan berkorban demi kekasih yang sehebat dan seagung itu?
Ada. Yaitu keikhlasan berkorban sang putra, Ismail, yang dengan ketulusan luar biasa menyerahkan nyawanya demi Sang Kekasih yang sama. Dua hamba Allah telah membuktikan cinta mereka yang agung dengan pengorbanan yang agung. Anak, belahan jiwa, dan nyawa sendiri.
Keduanya telah membuktikan bahwa pernyataan mereka tulus, bukan pernyataan kosong yang hanya sebagai pemanis bibir. Mereka benar-benar memurnikan kepasrahan hanya kepada Allah. Mengakui dan menyadari bahwa pemilikan hakiki hanya pada Allah. Bahwa semuanya, tanpa kecuali, adalah milik Allah, tak berbagi dengan siapa pun, termasuk dengan diri sendiri.
Tapi hal itu banyak terlupakan. Iduladha hanya dimaknai dengan kesediaan menyisihkan harta untuk membeli hewan kurban dan menyembelihnya. Padahal Iduladha bukan sekedar menyembelih hewan kurban, termasuk hewan kurban yang dipamer-pamerkan dengan harga yang mengiris hati kaum tak mampu.
Kerelaan berkorban yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail, mengingatkan kita untuk selalu memprioritaskan cinta kepada Allah dan sesama, serta rela beramal dan membantu orang lain yang membutuhkan. Kesabaran dan keteguhan hati mereka dalam menghadapi cobaan, menjadi pengingat bagi kita untuk selalu tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi rintangan dan ujian dalam hidup.
Keberanian dan ketegasan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah, menjadi inspirasi bagi kita untuk berani menegakkan kebenaran dan menjalankan nilai-nilai syariat meskipun tidak populer. Di era sekarang ini, di mana kemudahan dan kenikmatan hidup seringkali membuat kita lalai, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim menjadi tamparan keras untuk kembali ke fitrah kita sebagai manusia. Kita jadikan kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail sebagai refleksi diri, untuk mengevaluasi keimanan, ketaatan, dan pengorbanan kita dalam kehidupan.
Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail juga harus kita jadikan dorongan yang sangat kuat untuk berbagi. Di dalamnya tersirat makna bahwa menyembelih kurban menjadi sarana untuk menebar kebaikan dan mempererat kasih sayang antarsesama, sehingga kebahagiaan hari raya dapat dirasakan oleh semua orang, baik yang berkecukupan maupun mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan.
Iduladha kali ini harus kita jadikan momentum untuk mewarisi dan meniru keteladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam ketaatan kepada Sang Pencipta untuk mengorbankan sesuatu yang paling berharga dan yang paling kita cinta. Di era yang semakin materialistis dan hedonistis ini kita harus siap sedia berkorban untuk tidak mengejar keduniaan dengan segala cara dan mengorbankan sesama.
*) KH Z Arifin Junaidi adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol Semarang

