Jakarta (tutur.co.id)- Kedukaan adalah pengalaman yang hampir setiap orang alami dalam hidup. Kehilangan orang yang dicintai bisa menimbulkan berbagai perasaan, mulai dari sedih, hampa, hingga bingung harus bersikap seperti apa.
Tidak jarang pula orang di sekitar merasa canggung karena tidak tahu harus berkata apa kepada mereka yang sedang berduka.
Padahal, dalam banyak situasi, yang paling dibutuhkan oleh orang yang berduka bukanlah kata-kata yang rumit, melainkan kehadiran dan empati.
Dalam kajian psikologi, proses berduka atau grief merupakan respons alami seseorang terhadap kehilangan. Sejumlah penelitian dalam bidang psikologi menyebutkan bahwa kedukaan adalah proses emosional yang membantu seseorang menyesuaikan diri dengan kehilangan yang dialami.
Menghadirkan Empati, Bukan Sekadar Nasihat
Salah satu sikap paling penting ketika menghadapi orang yang sedang berduka adalah hadir dengan empati. Artinya, memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan tanpa merasa dihakimi.
Terkadang orang yang berduka hanya ingin didengarkan. Duduk menemani, memberi waktu bagi mereka untuk bercerita, atau bahkan sekadar berada di dekatnya sudah bisa menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Penting juga untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara berduka yang berbeda. Ada yang menangis, ada yang memilih diam, ada pula yang terlihat kuat di luar tetapi sebenarnya sedang memproses kehilangan secara mendalam.
Karena itu, sebaiknya hindari menilai bagaimana seseorang “seharusnya” bersikap ketika menghadapi kehilangan.
Ucapan Duka yang Sederhana namun Bermakna
Banyak orang merasa bingung mencari kata-kata yang tepat ketika menyampaikan belasungkawa. Padahal, ucapan yang sederhana dan tulus biasanya justru lebih menenangkan.
Beberapa contoh ucapan yang umum dan dapat diterima antara lain:
• “Turut berduka cita atas kepergian beliau.”
• “Saya sangat berduka mendengar kabar ini.”
• “Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.”
Jika Anda memiliki hubungan yang lebih dekat, ucapan bisa terasa lebih personal, misalnya:
• “Saya ikut merasakan kehilangan ini. Semoga kamu dan keluarga diberi kekuatan.”
• “Kalau kamu butuh teman bicara atau bantuan, saya ada.”
Di Indonesia, ucapan yang bernuansa religius juga sering disampaikan, seperti doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Hindari Kalimat yang Terasa Menggurui
Meski dimaksudkan untuk menghibur, beberapa kalimat justru bisa terasa kurang nyaman bagi orang yang sedang berduka. Misalnya:
• “Pasti ada hikmahnya.”
• “Kamu harus kuat.”
• “Sudah ikhlaskan saja.”
Kalimat seperti ini terkadang terdengar seperti memaksa seseorang untuk segera menerima kehilangan, padahal setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda dalam memproses kesedihan.
Dukungan Nyata Juga Penting
Selain ucapan, dukungan dalam bentuk tindakan sering kali sangat membantu. Hal sederhana seperti membantu menyiapkan makanan, menemani mengurus keperluan keluarga, atau sekadar menanyakan kabar beberapa hari setelah kejadian dapat memberikan rasa bahwa mereka tidak sendirian.
Menghadapi kedukaan bukan tentang menemukan kata-kata yang paling sempurna. Kehadiran yang tulus, empati, dan perhatian kecil sering kali menjadi bentuk dukungan yang paling berarti bagi mereka yang sedang mengalami kehilangan.

