Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (4/5/2026) diproyeksikan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi domestik, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, hingga Produk Domestik Bruto (PDB).
Sebelumnya, IHSG menutup April 2026 dengan melemah 2,03% atau turun 144,42 poin ke level 6.956,80. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,48 triliun.
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menilai IHSG berpotensi bergerak konsolidasi menguat dengan rentang support di 6.876 dan resistance di 7.109, seiring padatnya rilis data ekonomi.
Ia memperkirakan inflasi tahunan April 2026 naik ke kisaran 3,5%, yang berpotensi mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan.
“Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia terlihat meningkat di tengah penguatan yield obligasi Amerika Serikat yang mendorong tekanan pada arus dana asing yang keluar dari Indonesia,” ujar Hans.
Dari sisi domestik lainnya, ia juga menyoroti kondisi fiskal yang diperkirakan memburuk sehingga dapat menambah tekanan di pasar keuangan, termasuk pasar obligasi.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan area support di 6.838 dan resistance di 7.022.
“IHSG masih rawan didominasi oleh tekanan jual, dimana akan ada rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia,” katanya.
Untuk strategi perdagangan, ia merekomendasikan buy on weakness pada saham ANTM di kisaran Rp3.550–Rp3.710, trading buy CPIN di Rp3.900–Rp4.000, serta buy on weakness DEWA di Rp458–Rp486. Selain itu, saham MAPI juga direkomendasikan buy on weakness di rentang Rp1.125–Rp1.180 dengan batas stop loss di bawah Rp1.125.

