Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Finance»Kredit Menganggur Rp 2.439 Triliun, Sinyal Hati-hati Dunia Usaha di Tengah Likuiditas Longgar

Kredit Menganggur Rp 2.439 Triliun, Sinyal Hati-hati Dunia Usaha di Tengah Likuiditas Longgar

Finance Gusti Tetiro22 Januari 2026 / 08:18 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Gedung PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang hari ini mengumumkan pembagian dividen awal kepada para pemegang saham pada Kamis, 15 Januari 2026. (Foto: Dok Bank Rakyat Indonesia)
Gedung PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Foto: Dok Bank Rakyat Indonesia)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Bank Indonesia mencatat kredit perbankan yang belum tersalurkan atau undisbursed loan masih membengkak hingga Rp 2.439,2 triliun pada Desember 2025. Meski angka ini turun dibandingkan bulan sebelumnya, besarnya nilai tersebut menjadi cermin kehati-hatian dunia usaha dalam memanfaatkan pembiayaan, di tengah kondisi likuiditas perbankan yang sebenarnya longgar.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, dari sisi permintaan, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi dengan memanfaatkan fasilitas kredit yang sudah tersedia.

“Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp 2.439,2 triliun,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).

Besaran kredit menganggur tersebut setara dengan 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Angka ini mengindikasikan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemampuan bank menyalurkan kredit, melainkan pada belum kuatnya permintaan pembiayaan dari sektor riil.

Likuiditas Longgar, Permintaan Tertahan

Dari sisi penawaran, Perry menegaskan kapasitas pembiayaan perbankan tetap memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di level tinggi, yakni 28,57 persen. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh solid sebesar 13,83 persen secara tahunan (year on year) pada Desember 2025.

Kondisi ini menggambarkan paradoks klasik sektor perbankan: dana melimpah, tetapi penyaluran kredit belum sepenuhnya mengalir ke sektor produktif. Bank memiliki ruang besar untuk menyalurkan pembiayaan, namun dunia usaha masih menahan diri, dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi, biaya produksi, hingga prospek permintaan ke depan.

Kredit Mulai Longgar, Risiko Masih Membayangi

Meski demikian, BI mencatat adanya perbaikan minat penyaluran kredit. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar. Namun pelonggaran ini belum merata. Segmen kredit konsumsi dan UMKM masih diperlakukan lebih hati-hati, seiring tingginya risiko kredit di kedua sektor tersebut.

Baca Juga  Rupiah Menguat Pagi Hari Ini di Level Rp17.840 per Dolar AS

Di sinilah sisi humanis kebijakan moneter diuji. UMKM, yang kerap disebut tulang punggung ekonomi, justru menghadapi tantangan lebih besar untuk mengakses kredit saat bank berhitung dengan risiko. Padahal, sektor inilah yang menyerap tenaga kerja dan menopang daya beli masyarakat.

Target 2026: Optimisme yang Dijaga

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8–12 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit pada 2025 yang mencapai 9,69 persen (yoy). Target tersebut mencerminkan optimisme yang dijaga—tidak terlalu agresif, namun tetap memberi ruang bagi pemulihan yang berkelanjutan.

“Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan tersebut,” kata Perry.

Tantangan di Balik Angka

Besarnya undisbursed loan bukan sekadar statistik moneter. Di baliknya ada keputusan ribuan pelaku usaha yang memilih menunda ekspansi, menimbang risiko, dan membaca arah ekonomi dengan lebih hati-hati. Selama ketidakpastian belum sepenuhnya mereda, dorongan kredit saja mungkin belum cukup.

Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah insentif kebijakan, kepastian regulasi, dan stabilitas ekonomi mampu meyakinkan pelaku usaha untuk berani melangkah? Sebab, selama kredit masih mengendap di neraca bank, roda ekonomi berpotensi berputar lebih lambat dari yang diharapkan.

Bank bank indonesia BI perry warjiyo
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleLima Lokasi Pelayanan SIM Keliling Kamis 22 Januari 2026
Next Article Transaksi Emas Digital Melejit 101% di 2025, Minat Investor Ritel Naik Terus

Berita Lainnya

Celios: Danantara Harus Perketat Seleksi Proyek Hilirisasi Usai Bergabung dengan Forum SWF Dunia

17 Juli 2026 / 16:58 WIB

Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Menguat pada Triwulan II 2026, Sektor Riil Jadi Penopang Utama

17 Juli 2026 / 15:58 WIB

S&P: Danantara Berpotensi Perkuat Daya Saing BUMN dan Dongkrak Penerimaan Negara

16 Juli 2026 / 17:42 WIB

DPR: Lembaga Keuangan di PFII Tak Diawasi OJK, Pengawasan Beralih ke Dewan Pertimbangan

16 Juli 2026 / 10:07 WIB

Sempat Loyo, Kini SBN dan SRBI Kebanjiran Inflow Asing Rp105 Triliun Berkat Jurus BI-Rate!

15 Juli 2026 / 22:05 WIB

Polda Metro Libatkan FBI hingga Kedutaan Cek Barbuk Dolar

13 Juli 2026 / 18:31 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Banjir Berwarna Merah Pekat di Solo, Ini Penyebabnya

Kristo Suryokusumo20 April 2026 / 11:00 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.