Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Sempat Loyo, Kini SBN dan SRBI Kebanjiran Inflow Asing Rp105 Triliun Berkat Jurus BI-Rate!
  • KPK Sebut Pelimpahan Kasus Febrie ke Kejagung Bertentangan KUHAP
  • Operasi Senyap Mobil Merek China, Kuasai 18 Persen Pasar Otomotif Indonesia
  • Inggris vs Argentina: Tentang Kemasyhuran, Misteri, dan Kefanaan
  • Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Sopir Mobil Tangki yang Melanggar, Distribusi BBM di Sumut Dipastikan Normal
  • Tensi Kawasan Teluk Kembali Memanas, Dubes Yaman Sowan Anis Matta
  • KPK Beberkan Alasan Geledah Rumah Boby Rizaldi Anggota BPK
  • IRGC Masuk Daftar Teroris, Tentara Islam Iran Kecam Parlemen Inggris
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Market»Sempat Loyo, Kini SBN dan SRBI Kebanjiran Inflow Asing Rp105 Triliun Berkat Jurus BI-Rate!

Sempat Loyo, Kini SBN dan SRBI Kebanjiran Inflow Asing Rp105 Triliun Berkat Jurus BI-Rate!

Market Toto Pribadi15 Juli 2026 / 22:05 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: Tutur/Antara/Galih Pradipta)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) terbukti efektif menarik kembali minat investor portofolio. Sepanjang periode Juni hingga awal Juli 2026, aliran masuk modal asing (foreign inflows) ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat menembus angka sekitar Rp105 triliun.

Secara rinci, inflow asing ke instrumen SBN pada periode tersebut mencapai sekitar Rp33 triliun, sedangkan aliran modal masuk ke SRBI menyentuh angka sekitar Rp72 triliun. Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti saat menjelaskan kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan BI sebagai respons di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.

“Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, kebijakan yang dibutuhkan harus tepat dan bersifat temporer. Itulah sebabnya pada Mei dan Juni kami menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps). Setelah itu terjadi repricing, bukan hanya pada SRBI tetapi juga pada SBN,” kata Destry dalam acara Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.

Kenaikan suku bunga acuan ini terbukti berhasil membalikkan arah arus modal yang sempat keluar (outflow) pada kuartal I 2026. Secara kumulatif, SBN kini mencatatkan inflow sekitar Rp17,7 triliun. Sementara itu, akumulasi aliran modal masuk ke instrumen SRBI telah mencapai sekitar Rp174 triliun.

Meskipun pasar saham domestik masih mengalami tekanan akibat penyesuaian harga dan meningkatnya persepsi risiko (risk premium) investor terhadap Indonesia, total aliran modal yang masuk ke pasar keuangan domestik tetap kokoh.

“Karena di pasar saham masih ada terus proses repricing, sehingga saat ini (secara keseluruhan) alhamdulillah kita sudah ada inflow sekitar Rp132 triliun,” jelas Destry.

Baca Juga  Babak Baru Duel AS-Israel Versus Iran, Perang Kimia!

BI menilai penyesuaian bunga acuan merupakan langkah front-loading yang krusial untuk menjaga ekspektasi pasar, meredam sentimen negatif, sekaligus mengantisipasi potensi tekanan inflasi di masa mendatang—khususnya dari kelompok pangan bergejolak (volatile food).

“Jadi mungkin ini yang mendasari mengapa kami mengambil keputusan tersebut, karena memang harus ada repricing terhadap aset-aset portofolio kita,” tambah Destry.

Selain mengandalkan kebijakan suku bunga, BI terus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui perluasan kerja sama transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT). Saat ini, skema LCT telah mencakup delapan hingga sembilan negara mitra, dengan pertumbuhan transaksi paling pesat tercatat pada hubungan dagang bersama China dan Jepang.

Hingga Mei 2026, nilai perdagangan Indonesia-China yang memanfaatkan mekanisme LCT telah mencapai ekuivalen sekitar 9 miliar dolar AS. Skema ini dinilai efektif memangkas ketergantungan pasar domestik terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Di sisi pertumbuhan ekonomi, BI menyeimbangkannya lewat pelonggaran kebijakan makroprudensial. BI memberikan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi perbankan yang aktif menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Hingga Juni 2026, dana insentif yang disalurkan kembali ke perbankan telah mencapai sekitar Rp479 triliun.

Kebijakan ini sukses menopang laju kredit perbankan nasional yang tumbuh sebesar 11,51 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026, dan diperkirakan tetap bertahan di level yang sama pada Juni 2026.

“Jadi kami mengombinasikan kebijakan. Stabilitas tentu harus kami jaga karena nilai tukar merupakan mandat Bank Indonesia. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi, kami bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain untuk terus mendorong perekonomian,” ujarnya.

Sebagai catatan tambahan, kenaikan BI-Rate terjadi beberapa tahap sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Pada 20 Mei 2026, naik sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Lalu pada 9 Juni 2026 naik lagi sebesar 25 bps menjadi menjadi 5,50% dan terakhir pada 18 Juni 2026 dengan kenaikan 25 bps menjadi 5,75%.

Baca Juga  IHSG Menguji Level 8.215, Phintraco Rekomendasikan CUAN dan 4 Saham Ini
bank indonesia bi rate headline investor asing suku bunga acuan
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKPK Sebut Pelimpahan Kasus Febrie ke Kejagung Bertentangan KUHAP

Berita Lainnya

KPK Sebut Pelimpahan Kasus Febrie ke Kejagung Bertentangan KUHAP

15 Juli 2026 / 21:09 WIB

Operasi Senyap Mobil Merek China, Kuasai 18 Persen Pasar Otomotif Indonesia

15 Juli 2026 / 20:27 WIB

Inggris vs Argentina: Tentang Kemasyhuran, Misteri, dan Kefanaan

15 Juli 2026 / 20:11 WIB

IRGC Masuk Daftar Teroris, Tentara Islam Iran Kecam Parlemen Inggris

15 Juli 2026 / 19:32 WIB

Daftar 9 Nama Tim Khusus Kejagung Tangani Kasus Febrie Adriansyah

15 Juli 2026 / 18:15 WIB

Tiga Arena Tempur Penentu Hasil Akhir Argentina vs Inggris

15 Juli 2026 / 17:00 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Menkum Supratman Dorong Tata Kelola Royalti Musik dan Jurnalistik di Forum WIPO

Ahmad Nuryaman07 Juli 2026 / 07:30 WIB

Sempat Loyo, Kini SBN dan SRBI Kebanjiran Inflow Asing Rp105 Triliun Berkat Jurus BI-Rate!

15 Juli 2026 / 22:05 WIB

KPK Sebut Pelimpahan Kasus Febrie ke Kejagung Bertentangan KUHAP

15 Juli 2026 / 21:09 WIB

Operasi Senyap Mobil Merek China, Kuasai 18 Persen Pasar Otomotif Indonesia

15 Juli 2026 / 20:27 WIB

Inggris vs Argentina: Tentang Kemasyhuran, Misteri, dan Kefanaan

15 Juli 2026 / 20:11 WIB

Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Sopir Mobil Tangki yang Melanggar, Distribusi BBM di Sumut Dipastikan Normal

15 Juli 2026 / 20:04 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.