Jakarta (tutur.co.id) — Investor pasar modal diminta mewaspadai potensi volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juli 2026. PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai terdapat 14 agenda pidato Presiden pada bulan ini yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham.
Dalam riset Market Outlook Semester II-2026 yang dirilis Rabu (1/7/2026), Kiwoom menyebut secara historis pidato Presiden kerap diikuti fluktuasi harga saham sehingga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor.
Meski demikian, Kiwoom tetap optimistis terhadap prospek pasar saham domestik. Perusahaan sekuritas tersebut memproyeksikan IHSG mampu ditutup pada kisaran 7.250-7.700 pada akhir 2026, dengan syarat berhasil keluar dari tren penurunan (downtrend) pada akhir Juli.
“Proyeksi tersebut didukung pola historis yang menunjukkan Juli cenderung menjadi bulan positif bagi IHSG, serta belum adanya sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional, seperti S&P Global, terhadap Indonesia,” tulis Kiwoom dalam risetnya.
Dari sisi valuasi, Kiwoom menilai IHSG masih tergolong murah dengan rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) sebesar 13,1 kali. Valuasi tersebut menjadikan IHSG sebagai indeks saham utama kedua termurah di Asia setelah Hang Seng.
Namun, valuasi yang menarik dinilai belum cukup untuk mengembalikan minat investor asing ke pasar modal Indonesia.
Menurut Kiwoom, tekanan terhadap pasar saham lebih banyak dipicu faktor struktural. Porsi kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) turun dari sekitar 40% pada 2019 menjadi hanya 13-14% saat ini. Sementara itu, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets juga merosot dari 2,6% pada 2016 menjadi sekitar 0,4%.
Penurunan bobot tersebut menyebabkan dana investasi pasif secara otomatis mengurangi alokasi investasi di Indonesia. Kondisi itu kemudian diikuti investor aktif sehingga likuiditas, cakupan riset, dan perhatian investor global terhadap pasar Indonesia terus melemah.
Kiwoom juga menilai Indonesia belum banyak menikmati arus modal global yang kini berfokus pada sektor kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan robotika. Hal itu karena struktur emiten di Bursa Efek Indonesia masih didominasi sektor perbankan, komoditas, konsumer, dan konglomerasi yang belum terintegrasi langsung dengan rantai pasok industri AI maupun robotika.
Karena itu, tantangan utama Indonesia pada paruh kedua 2026 bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan daya tarik investasi melalui inovasi, transparansi, kredibilitas kebijakan, serta konsistensi pelaksanaan reformasi.
Untuk strategi investasi, Kiwoom merekomendasikan sejumlah saham pilihan pada semester II-2026, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga Rp6.300, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp4.800, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) Rp9.925, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp3.600, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) Rp705, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Rp3.850, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) Rp3.140, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp970, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp4.100.

