Atlanta (Tutur.co.id) – Inggris memang lebih diunggulkan saat menghadapi RD Kongo pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Rabu (1/7/2026) pukul 23.00 WIB. Berstatus sebagai juara Grup L, The Three Lions diprediksi mampu melangkah ke babak 16 besar. Namun, melihat perjalanan RD Kongo sejauh ini, pasukan Thomas Tuchel dipastikan tidak akan menjalani laga yang mudah.
Meski kualitas skuad dan pengalaman lebih berpihak kepada Inggris, sejarah membuktikan bahwa tim-tim Afrika kerap menghadirkan kejutan di fase gugur Piala Dunia. Paraguay yang menyingkirkan Jerman dan Maroko yang mendepak Belanda menjadi bukti bahwa status unggulan bukan jaminan untuk lolos.
Rekam Jejak RD Kongo di Fase Gugur Piala Afrika Patut Diwaspadai
RD Kongo memang bukan negara dengan koleksi gelar terbanyak di Afrika, tetapi kiprah mereka di Piala Afrika (AFCON) menunjukkan karakter kuat ketika menghadapi pertandingan hidup-mati.
Dalam tujuh edisi terakhir AFCON, Les Leopards berhasil mencapai satu perempat final dan dua semifinal. Sejak 2017, mereka telah menjalani enam pertandingan fase gugur dan hampir selalu mampu memberikan perlawanan sengit kepada lawan-lawannya.
Satu-satunya kemenangan mereka dalam waktu normal terjadi saat mengalahkan Guinea 3-1 pada edisi 2023. Meski beberapa kali tersingkir, RD Kongo tidak pernah kalah dengan selisih besar. Kekalahan 2-1 dari Ghana dan 1-0 dari Pantai Gading menjadi margin terbesar yang mereka alami.
Mereka juga sempat memaksa Madagaskar hingga adu penalti serta membawa Aljazair bermain hingga babak tambahan sebelum akhirnya kalah tipis pada AFCON 2025.
Salah satu pencapaian paling berkesan terjadi saat RD Kongo menyingkirkan Mesir pada AFCON 2024. Setelah bermain imbang 1-1, Les Leopards menang dramatis 8-7 lewat adu penalti, membuktikan kemampuan mereka menghadapi tim-tim unggulan.
Pertahanan Solid Jadi Senjata Utama
Salah satu kekuatan terbesar RD Kongo adalah organisasi pertahanan yang disiplin. Dalam 12 pertandingan terakhir di Piala Afrika, mereka hanya kebobolan tujuh gol. Ketangguhan tersebut berlanjut di Piala Dunia 2026, di mana pasukan Sebastien Desabre hanya kebobolan satu gol pada masing-masing dari tiga laga fase grup.
Mereka bahkan mampu menahan Portugal dengan skor 1-1 sebelum mencatat kemenangan dramatis atas Uzbekistan yang memastikan tiket ke babak 32 besar. Statistik tersebut menjadi peringatan bagi Inggris bahwa membongkar pertahanan RD Kongo tidak akan semudah yang diperkirakan.
Inggris Jarang Menang Mudah di Fase Gugur Piala Dunia
Di atas kertas, Inggris memang lebih unggul. The Three Lions juga belum pernah kalah dari wakil Afrika dalam sejarah Piala Dunia. Namun, catatan mereka di fase gugur menunjukkan bahwa pertandingan sering kali berlangsung lebih sulit dari perkiraan.
Dalam tujuh laga pertama fase gugur Piala Dunia sejak 1990, Inggris hanya dua kali meraih kemenangan dengan nyaman, yakni saat mengalahkan Denmark 3-0 pada 2002 dan Senegal 3-0 pada 2022.
Tiga pertandingan lainnya bahkan harus ditentukan hingga babak tambahan atau adu penalti. Inggris mengalahkan Belgia setelah perpanjangan waktu pada 1990, kalah dari Argentina lewat adu penalti pada 1998, dan menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti pada 2018.
Sementara itu, kemenangan atas Ekuador pada Piala Dunia 2006 juga hanya diraih berkat tendangan bebas David Beckham dalam laga yang berlangsung sangat ketat.
Inggris Tetap Favorit, tetapi Tak Boleh Terlena
Meski kualitas pemain seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, dan Declan Rice membuat Inggris tetap menjadi favorit, performa mereka sepanjang 2026 belum sepenuhnya meyakinkan.
The Three Lions tercatat empat kali gagal mencetak lebih dari satu gol dalam tujuh pertandingan terakhir di semua ajang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas lini depan mereka masih belum sepenuhnya konsisten.
Di sisi lain, RD Kongo memiliki organisasi permainan yang disiplin, pertahanan yang kokoh, serta mental bertanding yang telah teruji saat menghadapi tim-tim besar.
Karena itu, laga Inggris vs RD Kongo diprediksi tidak akan berjalan mudah bagi The Three Lions. Jika Inggris gagal memanfaatkan peluang atau kehilangan fokus, Les Leopards memiliki kapasitas untuk menciptakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.

