Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (16/4/2026), dengan potensi bergerak dalam rentang 7.500 hingga 7.700.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, indeks masih berpeluang melanjutkan pelemahan dan mengalami pullback, seiring adanya area gap menuju level 7.500 yang menjadi support terdekat.
“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan pullback, dengan area gap hingga level 7.500 sebagai support terdekat,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Tekanan terhadap indeks juga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.100 per dolar AS. Kondisi ini mengindikasikan masih terjadinya arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar domestik.
Selain itu, ketidakpastian global turut membayangi, terutama belum tercapainya kesepakatan dalam konflik Iran dan Amerika Serikat yang membuat pergerakan pasar cenderung terbatas.
Di sisi eksternal, pergerakan bursa global menunjukkan dinamika yang beragam. Indeks S&P 500 di Wall Street menguat 0,80% ke level tertinggi baru, diikuti Nasdaq yang melonjak 1,59%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru terkoreksi tipis 0,15%.
Di tengah kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham untuk dicermati, yakni AKRA dengan target harga Rp1.505–1.550, INCO di kisaran Rp7.000–7.775, serta BUKA dengan target Rp163–169.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 52,36 poin atau 0,68% ke level 7.623. Pelemahan ini diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp1,16 triliun.
Tekanan jual terbesar tercatat pada saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI senilai Rp706,57 miliar dan BBCA sebesar Rp263,83 miliar.
Secara sektoral, penurunan indeks dipicu oleh pelemahan sejumlah sektor utama, di antaranya infrastruktur yang terkoreksi 1,33%, kesehatan 2,81%, konsumer primer 1%, material dasar 0,44%, serta energi 0,27%. Sebaliknya, sektor transportasi, industri, konsumer non-primer, dan properti masih mencatatkan penguatan.
Meski IHSG terkoreksi akibat aksi profit taking, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan signifikan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA). Saham DEFI melesat lebih dari 34%, diikuti SDMU yang naik hampir 35%, serta PSDN yang juga menguat tajam.
Euforia juga terlihat pada saham pendatang baru seperti WBSA yang melonjak 25%. Selain itu, saham RONY, ASLI, BIKE, dan MLPT juga mencatatkan penguatan signifikan.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan dinamika domestik, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan cenderung terbatas, sehingga investor disarankan selektif dalam memilih saham dengan momentum dan fundamental yang kuat.

