Jakarta (tutur.co.id) — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$111,33 miliar atau meningkat 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan terjadi baik pada impor migas maupun nonmigas.
Impor migas tercatat sebesar US$17,45 miliar atau naik 27,89% secara tahunan, sedangkan impor nonmigas mencapai US$93,88 miliar atau meningkat 13,16%.
“Jika dilihat menurut penggunaannya, secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
China masih menjadi negara asal impor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai US$39,27 miliar atau menguasai 41,83% dari total impor nonmigas.
Impor dari China didominasi mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya senilai US$8,73 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$8,43 miliar, serta plastik dan barang dari plastik senilai US$2,33 miliar.
“Impor nonmigas dari Tiongkok mencapai US$39,27 miliar. Ini terutama didominasi mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan pangsa 22,24% dan tumbuh 15,20% secara kumulatif,” ujar Ateng.
Jepang menempati posisi kedua sebagai negara asal impor nonmigas terbesar dengan nilai US$5,17 miliar atau pangsa 5,51%. Komoditas utama yang diimpor meliputi mesin dan peralatan mekanis senilai US$1,07 miliar, besi dan baja sebesar US$700 juta, serta kendaraan beserta bagiannya senilai US$670 juta.
Sementara itu, impor nonmigas dari Australia mencapai US$5,02 miliar. Berbeda dengan China dan Jepang yang didominasi produk manufaktur, impor dari Australia terutama berupa logam mulia serta perhiasan atau permata senilai US$1,50 miliar dengan pangsa 29,83%, atau melonjak 216,88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Indonesia juga mengimpor serealia senilai US$600 juta dan bahan bakar mineral sebesar US$560 juta dari Australia.
Selain ketiga negara tersebut, impor nonmigas Indonesia juga berasal dari negara-negara ASEAN dengan pangsa 14,88%, Uni Eropa sebesar 6,59%, serta negara dan kawasan lainnya yang secara kumulatif menyumbang 25,84% dari total impor nonmigas.
“Tiga besar negara asal impor yaitu Tiongkok, Jepang, dan Australia. Ketiga negara tersebut memberikan pangsa sebesar 52,69% dari total impor nonmigas Indonesia,” kata Ateng.

