Budapest (Tutur.co.id) – Kegagalan Arsenal meraih gelar Liga Champions 2025/2026 tak hanya menyisakan kekecewaan bagi para pemain dan pendukung. Setelah kekalahan dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti di final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, keputusan pelatih Mikel Arteta dalam menentukan eksekutor penalti menjadi salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan.
Arsenal harus mengubur impian mengangkat trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah kalah 3-4 dalam adu penalti. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan penuh tensi.
Sorotan kemudian mengarah kepada daftar penendang penalti yang dipilih Arteta. Beberapa pengamat menilai keputusan tersebut berperan dalam kegagalan Arsenal, terutama setelah Eberechi Eze dan Gabriel gagal menjalankan tugasnya dari titik putih.
Mantan pemain Arsenal yang kini menjadi analis sepak bola, Paul Merson, termasuk yang mempertanyakan keputusan tersebut. Menurut dia, Arteta seharusnya menunjuk pemain yang lebih berpengalaman untuk mengambil tendangan penalti pada momen krusial.
“Saya tidak mengerti mengapa beberapa pemain yang biasanya menjadi pilihan utama untuk penalti tidak masuk dalam daftar penendang. Dalam pertandingan sebesar ini, pengalaman sangat penting,” kata Merson.
Menurut Merson, tekanan di final Liga Champions berbeda dengan situasi pertandingan biasa. Karena itu, pemilihan eksekutor harus mempertimbangkan rekam jejak dan kemampuan pemain menghadapi tekanan tinggi.
Ia juga menilai Arsenal kehilangan keuntungan ketika sejumlah pemain senior tidak mengambil peran lebih besar dalam adu penalti.
“Ketika pertandingan ditentukan lewat penalti, Anda membutuhkan pemain yang benar-benar percaya diri dan terbiasa berada dalam situasi seperti itu,” ujarnya.
Terlepas dari kontroversi tersebut, Arsenal sebenarnya tampil cukup baik sepanjang laga. The Gunners bahkan unggul lebih dulu melalui gol Kai Havertz pada menit keenam sebelum PSG menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada babak kedua.
Setelah skor tetap bertahan hingga akhir perpanjangan waktu, adu penalti menjadi penentu. PSG tampil lebih efektif dalam menuntaskan kesempatan mereka, sementara dua kegagalan Arsenal menjadi pembeda yang mengantarkan klub asal Prancis itu mempertahankan gelar Liga Champions.

