Jakarta (tutur.co.id) – Berita ditahannya beberapa warga negara Indonesia (WNI) oleh pihak militer Israel kini jadi topik hangat di tengah masyarakat. Termasuk sebutan Global Sumud Flotilla yang mendadak popular setelah sebelumnya banyak masyarakat yang tak begitu tahu dengan organisasi nirlaba yang satu ini.
Global Sumud Flotilla atau disingkat GSF merupakan gerakan kemanusiaan internasional berbasis sipil yang dibentuk untuk mengirim bantuan ke Gaza melalui jalur laut. Gerakan ini mulai dikenal dunia sejak 2025 setelah mengorganisasi armada kapal internasional yang mencoba menembus blokade laut Israel di wilayah Gaza. Selain membawa bantuan kemanusiaan, GSF juga bertujuan menarik perhatian dunia terhadap kondisi warga sipil Palestina.

Global Sumud Flotilla resmi dibentuk pada pertengahan 2025 di tengah meningkatnya konflik dan krisis kemanusiaan di Gaza. Gerakan ini lahir sebagai gabungan beberapa organisasi solidaritas Palestina internasional seperti Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara.
Nama “Sumud” berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan, ketahanan, atau tetap bertahan dalam tekanan. Nama tersebut dipilih sebagai simbol perjuangan dan solidaritas terhadap warga Palestina yang hidup di bawah blokade dan konflik berkepanjangan.
Tujuan dan Misi Utama
Menurut situs resminya, Global Sumud Flotilla memiliki fokus utama dalam pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur laut. Bantuan yang dibawa meliputi makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, hingga kebutuhan dasar bagi warga sipil Palestina yang terdampak konflik dan blokade.
Selain membawa bantuan, gerakan ini juga bertujuan membuka akses jalur kemanusiaan internasional menuju Gaza yang selama ini dibatasi. Global Sumud Flotilla ingin menarik perhatian dunia terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina sekaligus meningkatkan tekanan internasional terhadap blokade laut Israel di Gaza.

GSF menegaskan bahwa mereka merupakan gerakan independen, non-pemerintah, dan bersifat sipil non-kekerasan. Organisasi ini menyebut seluruh misinya dilakukan atas dasar solidaritas kemanusiaan dan bukan bagian dari operasi militer maupun agenda politik resmi negara tertentu.
Global Sumud Flotilla disebut sebagai salah satu armada sipil terbesar yang pernah menuju Gaza. Pada misi 2025, armada ini melibatkan lebih dari 40 kapal dengan sekitar 500 peserta dari lebih 40 negara. Sementara pada misi 2026, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 100 kapal dengan ribuan peserta dari berbagai belahan dunia.
Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari dokter, jurnalis, aktivis HAM, mahasiswa, relawan kemanusiaan, hingga tokoh publik internasional. Beberapa nama yang sempat dikaitkan dengan gerakan ini antara lain Greta Thunberg, Thiago Ávila, hingga sejumlah aktivis dari Eropa, Amerika Latin, Asia, dan Timur Tengah.
Kronologi Aksi Armada Global Sumud Flotilla
Armada pertama mulai berlayar pada musim panas 2025 dari sejumlah pelabuhan di Eropa dan Mediterania seperti Barcelona, Genoa, dan Tunisia menuju Gaza. Namun sebagian besar kapal akhirnya dicegat atau diintersep oleh militer Israel sebelum mencapai wilayah Gaza.

Pada April hingga Mei 2026, GSF kembali meluncurkan misi baru dengan jumlah kapal yang lebih besar. Reuters melaporkan bahwa sebagian kapal armada tersebut kembali dicegat pasukan Israel di Laut Mediterania ketika membawa bantuan menuju Gaza. Intersepsi itu memicu protes dari sejumlah negara dan organisasi HAM internasional.
Struktur Organisasi dan Tokoh Penting
Global Sumud Flotilla memiliki steering committee atau komite pengarah internasional yang terdiri dari aktivis dan relawan dari berbagai negara. Salah satu tokoh yang cukup dikenal adalah Thiago Ávila dari Brasil yang juga terlibat dalam Freedom Flotilla Coalition. Selain itu ada Maria Elena Delia dari Italia yang aktif dalam koordinasi gerakan kemanusiaan internasional untuk Gaza.
Di Asia Tenggara, gerakan ini juga mendapat dukungan dari organisasi seperti MAPIM Malaysia dan Sumud Nusantara. Beberapa relawan dari Indonesia dan Malaysia diketahui ikut dalam misi pelayaran menuju Gaza sebagai bagian dari solidaritas internasional.
Kontroversi dan Sorotan Dunia
Meski mengusung misi kemanusiaan, keberadaan Global Sumud Flotilla tetap menjadi kontroversi internasional. Israel menilai armada tersebut melanggar blokade laut Gaza dan berpotensi menimbulkan ancaman keamanan. Sebaliknya, para relawan GSF menyebut intersepsi kapal bantuan di laut internasional sebagai pelanggaran hukum internasional dan tindakan yang menghambat bantuan kemanusiaan.
Kontroversi tersebut membuat nama Global Sumud Flotilla semakin dikenal dunia. Gerakan ini kini dianggap sebagai salah satu simbol solidaritas internasional terbesar terhadap Palestina, sekaligus menjadi bagian dari perdebatan global soal bantuan kemanusiaan, blokade Gaza, dan hak sipil internasional.

