Boston (Tutur.co.id) – Timnas Maroko kembali mengirimkan pesan kuat kepada para pesaingnya di Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Skotlandia dengan skor tipis 1-0 pada laga kedua Grup C, Sabtu (20/6/2026) pagi WIB
Kemenangan ini membawa Atlas Lions semakin dekat ke babak gugur. Namun di balik hasil positif tersebut, pelatih Mohamed Ouahbi masih memiliki pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan, yakni buruknya penyelesaian akhir yang membuat Maroko gagal mengunci kemenangan lebih cepat.
Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Ismael Saibari pada menit-menit awal pertandingan. Penyerang yang sedang naik daun itu kembali menjadi pahlawan setelah mencetak gol keduanya di turnamen ini.
Saibari Buka Jalan Kemenangan Maroko
Maroko langsung menggebrak sejak peluit pertama dibunyikan. Belum genap satu menit pertandingan berjalan, Brahim Diaz menemukan ruang di lini pertahanan Skotlandia dan mengirim umpan matang kepada Ismael Saibari.
Sang striker kemudian melepaskan tembakan keras tanpa kontrol yang gagal dihentikan kiper Skotlandia. Gol cepat tersebut membuat Maroko semakin percaya diri menguasai jalannya pertandingan.
Sepanjang babak pertama, Atlas Lions tampil dominan dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Mereka beberapa kali membongkar pertahanan Skotlandia melalui kombinasi serangan cepat dan penguasaan bola yang rapi.
Sementara itu, peluang terbaik Skotlandia datang menjelang turun minum ketika Andy Robertson mengirim umpan silang ke arah John McGinn. Namun gelandang Napoli tersebut gagal memanfaatkan kesempatan emas yang didapatnya.
Maroko Mendominasi, Skotlandia Bertahan
Memasuki babak kedua, pola pertandingan tidak banyak berubah. Maroko tetap mengendalikan permainan dan terus menekan pertahanan lawan. Beberapa peluang kembali tercipta, tetapi penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat keunggulan mereka tetap hanya satu gol.
Situasi tersebut secara perlahan memberi harapan Skotlandia. Menjelang akhir pertandingan, The Tartan Army mulai berani mengambil risiko lebih besar untuk mencari gol penyama kedudukan.
Tekanan demi tekanan sempat diberikan kepada lini belakang Maroko, meski secara keseluruhan mereka tidak benar-benar mampu mengimbangi dominasi lawan. Jika melihat jalannya pertandingan, hasil imbang sebenarnya akan menjadi hukuman yang terlalu berat bagi Maroko.
Penyelesaian Akhir Jadi Masalah Utama Atlas Lions
Meski tampil hampir sempurna dalam banyak aspek permainan, Maroko kembali menunjukkan satu kelemahan yang berpotensi menjadi masalah serius di fase gugur nanti.
Tim asuhan Mohamed Ouahbi sangat efektif dalam membangun serangan dan mampu menciptakan banyak peluang berkualitas. Mereka juga tampil disiplin saat bertahan serta berhasil menutup hampir seluruh ruang yang bisa dimanfaatkan Skotlandia.
Namun ketika peluang emas hadir, para pemain Maroko justru gagal menyelesaikannya dengan baik. Neil El Aynaoui dan Bilal El Khannouss sama-sama mendapatkan kesempatan satu lawan satu dengan kiper Angus Gunn, tetapi keduanya gagal mengubah peluang tersebut menjadi gol.
Selain itu, terdapat umpan silang matang yang seharusnya hanya membutuhkan sentuhan sederhana untuk menjadi gol, tetapi tidak ada pemain yang mampu menyambarnya.
Saibari juga nyaris mencetak gol keduanya setelah tendangannya membentur mistar gawang. Sementara Amaimouni-Echghouyab membuang peluang emas pada masa injury time setelah tembakannya melambung jauh di atas gawang.
Dari total 11 tembakan yang dilepaskan Maroko, hanya dua yang mengarah tepat ke gawang. Salah satunya berbuah gol dari Saibari, sementara satu peluang lainnya digagalkan penyelamatan gemilang Angus Gunn.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa efektivitas penyelesaian akhir masih menjadi aspek yang harus segera diperbaiki jika Maroko ingin melangkah jauh di Piala Dunia 2026.
Skotlandia Hampir Mencuri Hasil
Karena terus gagal menambah gol, Maroko akhirnya harus menghadapi tekanan di menit-menit akhir pertandingan. Skotlandia yang sebelumnya kesulitan menciptakan peluang mulai percaya diri untuk menyerang. Upaya terbaik mereka datang melalui Scott McTominay yang melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti, meski bola hanya menghantam sisi luar jaring gawang.
The Tartan Army juga beberapa kali meminta penalti kepada wasit, namun seluruh klaim tersebut ditolak. Meski gagal mencetak gol, perlawanan Skotlandia di penghujung laga menjadi peringatan bagi Maroko tentang pentingnya memanfaatkan peluang saat masih mendominasi pertandingan.
Haiti Jadi Kesempatan Sempurna untuk Mempertajam Lini Depan
Pada pertandingan terakhir Grup C, Maroko akan menghadapi Haiti yang di atas kertas merupakan tim dengan kualitas terendah di grup ini. Meski Haiti telah menunjukkan semangat juang yang tinggi sepanjang turnamen, kualitas skuad mereka masih berada di bawah Maroko.
Situasi tersebut memberikan kesempatan ideal bagi Atlas Lions untuk memperbaiki ketajaman lini depan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri sebelum memasuki fase gugur.
Jika mampu tampil lebih klinis di depan gawang, Maroko bukan hanya berpeluang mengamankan tiket ke babak berikutnya, tetapi juga merebut posisi puncak klasemen Grup C.
Maroko Makin Menakutkan, tetapi Belum Sempurna
Kemenangan atas Skotlandia memperlihatkan bahwa Maroko memiliki semua elemen untuk menjadi salah satu tim paling berbahaya di Piala Dunia 2026. Mereka solid saat bertahan, agresif ketika menekan lawan, dan mampu menciptakan peluang secara konsisten.
Namun, satu hal yang masih menghalangi mereka untuk naik ke level kandidat juara adalah penyelesaian akhir. Jika masalah tersebut berhasil diperbaiki, Atlas Lions bisa menjadi ancaman serius bagi tim mana pun di fase gugur nanti.

