Jakarta (tutur.co.id) — Cerita ini bermula dari sebuah perjalanan kereta yang seharusnya biasa saja. Duduk bersebelahan, berbincang ringan, lalu selesai. Tapi bagi seorang penumpang perempuan, perjalanan itu berubah jadi pengalaman yang bikin perut mual dan kepala penuh tanda tanya. Bukan karena keretanya terlambat, tapi karena data pribadinya ternyata sudah lebih dulu berjalan ke orang asing.
Kasus itu kemudian bergulir ke ruang publik, viral di media sosial, dan akhirnya sampai ke Senayan. Anggota Komisi VI DPR RI, Imas Aan Ubudiyah, bereaksi keras. Ia meminta PT Kereta Api Indonesia Persero tidak berhenti pada kata maaf, melainkan berani menindak tegas oknum petugas KAI Services yang diduga menyalahgunakan data pribadi penumpang untuk berkomunikasi tanpa izin.
Menurut Imas, persoalan ini bukan perkara sepele. Yang bocor bukan sekadar nama atau nomor kursi, melainkan rasa aman konsumen yang semestinya dijaga penuh oleh perusahaan pelat merah. Karena itu, ia menilai permintaan maaf dari manajemen KAI tidak bisa dijadikan garis akhir.
“Permohonan maaf saja tidak cukup. Harus ada tindakan tegas dari manajemen terhadap siapapun yang berani melanggar SOP perusahaan, apalagi sampai membuka dan menggunakan data pribadi penumpang tanpa izin,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima tutur.co.id di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Bagi Imas, apa yang dilakukan oknum tersebut mencerminkan pelanggaran serius terhadap standar operasional dan etika pelayanan. Lebih jauh lagi, tindakan itu berpotensi melanggar aturan perlindungan data pribadi yang berlaku. Ia menilai, ketika data penumpang bisa diakses dan digunakan sembarangan, berarti ada masalah mendasar dalam sistem pengawasan internal.
Sebagai sesama perempuan, Imas mengaku paham betul tekanan psikologis yang dirasakan korban. Rasa aman yang seharusnya melekat selama perjalanan justru berubah menjadi kecemasan karena data pribadi tiba-tiba berada di tangan orang yang tak dikenal.
“Sebagai sesama perempuan, saya tentu ikut merasakan bagaimana kepanikan korban. Bayangkan, tiba-tiba data pribadi bocor begitu saja, dan yang lebih mengkhawatirkan, dilakukan oleh oknum yang seharusnya bertanggung jawab penuh menjaga keamanan dan kerahasiaan data penumpang,” ujarnya.
Ia menegaskan, kasus ini tidak bisa dilihat sebagai ulah individu semata. Menurutnya, ada indikasi lemahnya pengawasan internal yang perlu dibenahi secara menyeluruh. Karena itu, Imas mendesak PT KAI melakukan evaluasi total, mulai dari sistem pengelolaan data, mekanisme pengawasan petugas, hingga pelatihan etika layanan kepada seluruh karyawan.
Tak berhenti di situ, politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut juga memastikan Komisi VI DPR RI akan memanggil manajemen PT KAI untuk meminta penjelasan langsung. Ia ingin ada kejelasan soal bagaimana data penumpang dijaga, sanksi apa yang dijatuhkan, dan langkah konkret agar kasus serupa tidak terulang.
“DPR akan memanggil manajemen KAI untuk memastikan bahwa pengawasan berjalan optimal, ada sanksi nyata bagi pelanggar, dan kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Keamanan dan kenyamanan penumpang tidak boleh ditawar,” tutupnya.
Kasus dugaan penyalahgunaan data pribadi ini mencuat setelah seorang penumpang perempuan membagikan pengalamannya di media sosial. Melalui akun X @olivehateem_, korban menceritakan kejadian yang ia alami selama perjalanan kereta. Dalam unggahannya, ia mengaku diajak berbincang oleh seorang pria yang duduk di sebelahnya.
Awalnya terdengar biasa. Namun situasinya berubah ketika pria tersebut menyebutkan sejumlah data pribadi korban, padahal mereka sama sekali belum pernah saling mengenal. Korban mengaku terkejut dan tidak nyaman, apalagi ketika menyadari informasi tersebut seharusnya hanya tersimpan di sistem internal.
“Mba ini nomerku yang sebelah tempat duduk kamu tadi,” demikian tulis oknum KAI Servicer sebagaimana dikutip dari tangkapan layar akun X korban.
Merasa risih dan terancam, korban pun menegur pria tersebut. Ia menegaskan bahwa nomor tersebut merupakan nomor pribadi yang tidak pernah dibagikan ke sembarang orang.
“Mas maaf banget ini nomor pribadi, enggak pernah saya share ke siapa-siapa selain keluarga. Saya sebenarnya tadi kurang nyaman juga data saya diakses dan dijadiin bahan obrolan,” balas dia.
Penelusuran lebih lanjut yang dilakukan korban mengarah pada satu fakta penting. Pria tersebut diketahui merupakan karyawan PT Reska Multi Usaha atau KAI Services, anak usaha PT Kereta Api Indonesia. Ia diduga menyalahgunakan akses data penumpang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan operasional, bukan urusan pribadi.
Kasus ini pun menjadi pengingat keras bahwa di balik layanan transportasi publik yang tampak rapi, keamanan data penumpang adalah perkara serius yang tak boleh dibiarkan bocor dari dalam.

