Teheran (Tutur.co.id) – Seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa kemungkinan terjadinya konflik baru dengan Amerika Serikat masih terbuka, di tengah situasi yang dinilai belum sepenuhnya stabil pascagencatan senjata.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Inspektur Markas Militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, sebagaimana dikutip kantor berita semi-resmi Fars. Ia menilai tanda-tanda ketegangan masih kuat dan berpotensi berkembang kembali menjadi konflik terbuka.
“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar terjadi, dan berbagai bukti juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun,” ujar Asadi.
Asadi juga menilai pernyataan dan langkah yang diambil pejabat Amerika Serikat lebih bersifat politis dan berorientasi pada kepentingan domestik. Menurutnya, hal tersebut antara lain bertujuan menjaga stabilitas harga minyak sekaligus merespons tekanan yang dihadapi pemerintah AS.
“Tindakan dan pernyataan para pejabat AS sebagian besar berorientasi pada media untuk mencegah penurunan harga minyak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam kondisi siap menghadapi kemungkinan eskalasi, termasuk jika terjadi kesalahan perhitungan dari pihak lawan.
Peringatan tersebut muncul setelah rangkaian konflik yang terjadi sejak akhir Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu kemudian dibalas oleh Iran melalui aksi militer di kawasan, sehingga meningkatkan ketegangan regional.
Upaya meredakan situasi sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada awal April, namun perundingan lanjutan belum menghasilkan kesepakatan yang jelas.
Dalam perkembangan terbaru, Iran disebut telah mengajukan proposal baru untuk melanjutkan dialog dengan Amerika Serikat. Meski demikian, belum ada kepastian apakah proses negosiasi tersebut dapat mengarah pada penyelesaian konflik secara permanen.

