Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terus berada dalam tekanan berat. Hingga penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG tercatat melemah 8,23% secara year to date (ytd) ke level 7.935. Koreksi tajam ini menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu yang berkinerja terburuk secara global di awal 2026.
Padahal, IHSG sempat menunjukkan kinerja positif pada Januari lalu. Namun, sentimen eksternal dan domestik yang datang beruntun membalikkan arah pasar. Data menunjukkan dana asing keluar dari pasar modal Indonesia mencapai Rp11,01 triliun, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap risiko Indonesia.
Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan IHSG sebesar 8,23% ytd menempatkan Indonesia di peringkat keenam terburuk di Asia Tenggara, ke-13 di kawasan Asia Pasifik, dan ke-35 secara global. Posisi ini sekaligus menjadikan IHSG sebagai indeks dengan kinerja terendah di dunia sepanjang awal 2026.
Efek Domino dari MSCI hingga Moody’s
Tekanan terhadap IHSG bermula dari pengumuman MSCI pada Selasa (27/1/2026) terkait evaluasi transparansi dan penilaian free float saham emiten Indonesia. Dalam indeks review Februari 2026, MSCI menetapkan sejumlah perubahan sementara untuk pasar Indonesia.
Kebijakan tersebut meliputi pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian sementara penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar-segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menyatakan langkah ini diambil untuk menekan pergantian konstituen indeks (index turnover) dan risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi ruang bagi otoritas pasar Indonesia untuk memperbaiki transparansi. Namun, bagi pasar, kebijakan tersebut menjadi sinyal peringatan awal yang memicu aksi jual investor asing.
Tekanan berlanjut ketika sejumlah lembaga keuangan global—seperti Goldman Sachs, UBS, dan Moody’s—ikut menurunkan penilaian terhadap Indonesia. Terbaru, Moody’s memangkas outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan alasan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan fiskal dan tata kelola di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Keputusan Moody’s ini langsung berdampak signifikan. Pada perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG anjlok 2,08%. Dari total saham yang tercatat di BEI, 673 saham (71%) terkoreksi, 167 saham (17%) stagnan, dan hanya 118 saham (12%) yang menguat.
Koreksi Dinilai Jangka Pendek, Pasar Tunggu Konsistensi
Analis teknikal Sucor Sekuritas Reyhan Pratama menilai perubahan outlook Moody’s menjadi pemicu utama koreksi IHSG. Namun, ia menegaskan tekanan tersebut cenderung bersifat jangka pendek.
“Perubahan outlook Moody’s meningkatkan persepsi risiko di mata investor global. Namun penurunan ini relatif terbatas karena sebagian sentimen negatif sudah lebih dulu terdiskon sejak isu MSCI. Banyak risiko sebenarnya sudah ter-price in,” ujar Reyhan.
Ia menilai respons regulator, khususnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO), sudah menunjukkan arah kebijakan yang jelas dan konstruktif. “Pasar kini menunggu implementasi yang konsisten agar dampaknya benar-benar terasa pada likuiditas dan kepercayaan investor,” katanya.
Secara teknikal, Reyhan memproyeksikan IHSG masih bergerak konsolidatif dengan area support di 7.915. Peluang rebound tetap terbuka untuk menutup gap di kisaran 8.103–8.873, meski risiko penurunan kembali perlu diwaspadai jika indeks menembus 7.700.
Menariknya, di tengah tekanan pasar, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih (net buy) Rp944,31 miliar pada perdagangan Jumat. Aksi beli ini mengakhiri tren net sell asing yang terjadi selama tiga hari sebelumnya, memberi sinyal bahwa sebagian investor mulai melihat valuasi saham domestik semakin menarik.
Strategi Bertahan: Selektif dan Disiplin
Dalam kondisi pasar yang rapuh, KB Valbury Sekuritas menyarankan investor untuk bersikap lebih selektif dan disiplin dalam manajemen risiko. Enam saham direkomendasikan untuk strategi trading jangka pendek pada Senin (9/2/2026), yakni UNVR, MYOR, PGAS, SMGR, MEDC, dan BBTN, dengan pendekatan trading buy dan buy on weakness.
Rekomendasi tersebut menekankan pentingnya menentukan level masuk, target harga, serta stop loss secara ketat—sebuah pengingat bahwa di tengah volatilitas tinggi, peluang cuan tetap ada, tetapi risiko harus dikelola dengan lebih terukur.
Di tengah gejolak ini, pasar saham Indonesia berada di persimpangan penting. Bagi investor, situasi ini menuntut kesabaran dan kehati-hatian. Bagi regulator dan pemerintah, tekanan pasar menjadi ujian kepercayaan: seberapa cepat dan konsisten kebijakan mampu menjawab kekhawatiran global tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.

