Jakarta (tutur.co.id) – Kinerja pasar saham Indonesia menunjukkan penguatan positif sepanjang pekan perdagangan 15–19 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat kenaikan sebesar 2,82% dan ditutup di level 6.177,13 pada akhir pekan, dibandingkan posisi 6.007,65 pada pekan sebelumnya.
Sejalan dengan penguatan indeks, nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami peningkatan signifikan. Total kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp10.788 triliun, naik 2,51% dibandingkan Rp10.524 triliun pada pekan sebelumnya. Dengan demikian, nilai pasar emiten yang tercatat di BEI bertambah sekitar Rp264 triliun dalam sepekan.
Meski IHSG dan kapitalisasi pasar menguat, sejumlah indikator aktivitas perdagangan menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan rata-rata nilai transaksi harian mengalami sedikit penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.
“Rata-rata nilai transaksi harian pekan ini mengalami penurunan, yaitu sebesar 1,02% menjadi Rp24,81 triliun dari Rp25,06 triliun pada pekan sebelumnya,” ujar Kautsar dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Selain nilai transaksi, rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami koreksi. Selama pekan ini, rata-rata frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,25 juta kali per hari, turun 10,33% dibandingkan 2,51 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian. Volume perdagangan saham rata-rata mencapai 34,03 miliar saham per hari, lebih rendah 5,83% dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 36,14 miliar saham.
Di sisi lain, aktivitas investor asing masih menunjukkan tekanan jual. Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp3,19 triliun.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp68,25 triliun. Angka tersebut mencerminkan bahwa meskipun IHSG mulai mengalami pemulihan dalam beberapa pekan terakhir, aliran dana asing ke pasar saham Indonesia masih belum sepenuhnya pulih.
Pelaku pasar saat ini masih mencermati sejumlah sentimen penting, termasuk hasil MSCI Global Market Accessibility Review, arah kebijakan suku bunga domestik, stabilitas nilai tukar rupiah, serta perkembangan arus modal asing yang akan menjadi faktor penentu keberlanjutan penguatan IHSG pada paruh kedua tahun 2026.

