Jakarta (tutur.co.id) — Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan masih melanjutkan tekanan pada perdagangan awal pekan ini dengan potensi menguji level support 6.680. Tekanan pasar dinilai berasal dari kombinasi aksi jual asing, pelemahan rupiah, hingga sentimen global yang belum kondusif.
PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya menyebut IHSG masih berada dalam fase koreksi setelah sebelumnya ditutup melemah di level 6.723,3 atau turun 1,98%.
“Pasar & ekonomi: IHSG hari ini berpotensi melanjutkan koreksi menguji support 6,680, tertekan aksi jual asing akibat rebalancing MSCI, pelemahan rupiah, dan data inflasi AS yang masih tinggi,” tulis riset tersebut, Senin (18/05/2026).
Dari sisi makro, sekuritas tersebut juga memperkirakan tekanan pada nilai tukar rupiah masih berlanjut di kisaran Rp17.500–Rp17.800 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi penguatan dolar AS pasca rilis inflasi, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta respons pasar terhadap pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum menghasilkan kesepakatan signifikan.
Sementara itu, harga komoditas global juga menunjukkan pergerakan beragam. Minyak diperkirakan menguat seiring kekhawatiran gangguan pasokan akibat potensi penutupan jalur strategis Selat Hormuz, emas cenderung melemah karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sementara tembaga tertekan akibat melemahnya permintaan China.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai IHSG masih berada dalam kondisi jenuh jual (oversold). Senior Technical Analyst Mirae Asset, M. Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan tekanan pasar masih dipengaruhi arus keluar dana asing dan sentimen global.
“Berdasarkan analisa teknikal, IHSG masih terlihat oversold berdasarkan indikator RSI dan kemungkinan akan menguji ‘wave 5 / A’,” ujar Nafan.
Ia menambahkan, indikator teknikal seperti stochastic K_D masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mengalami penurunan. Kondisi ini memperkuat kecenderungan pasar yang masih defensif.
Dari sisi eksternal, pasar juga masih mencerna ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk risiko gangguan jalur perdagangan energi global. Selain itu, belum adanya kesepakatan konkret antara AS dan China juga menambah tekanan sentimen global.
“Market cenderung merespons netral hingga negatif karena pertemuan AS–Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial,” kata Nafan.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 Mei 2026, dengan ekspektasi BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% demi menjaga stabilitas rupiah.
“Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75% demi menjaga stabilitas rupiah,” ujarnya.
Secara keseluruhan, tekanan pada IHSG masih dipengaruhi kombinasi faktor global seperti inflasi AS, kebijakan suku bunga The Fed, hingga ketegangan geopolitik, serta faktor domestik berupa pelemahan rupiah dan arus keluar asing pasca rebalancing MSCI. .

