Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (29/5/2026) dengan rentang pergerakan di level 6.060-6.240. Di tengah tekanan pasar, saham EMAS dan PGAS direkomendasikan beli oleh BRI Danareksa Sekuritas.
Dalam riset paginya, BRI Danareksa Sekuritas menyebut tekanan terhadap IHSG masih dipengaruhi sentimen teknikal serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 16.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.
“Pergerakan indeks juga akan dipengaruhi effective date rebalancing MSCI pada penutupan perdagangan hari ini yang diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati penguatan bursa saham global selama periode libur panjang bursa Indonesia. Di pasar Amerika Serikat (AS), indeks Dow Jones ditutup naik tipis 0,049%, sedangkan Nasdaq dan S&P 500 masing-masing menguat 0,56% dan 0,91%.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan akumulasi beli saham EMAS dengan target harga Rp 7.900-Rp 8.275 serta saham PGAS di kisaran target Rp 1.925-Rp 1.955.
Sebaliknya, saham TOWR dan BSDE direkomendasikan jual seiring tekanan yang masih membayangi sektor properti dan infrastruktur telekomunikasi.
Sebelum libur Iduladha, IHSG ditutup anjlok 76,15 poin atau 1,23% ke level 6.130 dengan nilai transaksi mencapai Rp 15,24 triliun. Pelemahan indeks dipicu tekanan hampir di seluruh sektor saham.
Sektor industri menjadi pemberat terbesar setelah turun 3,38%, diikuti sektor konsumer primer 2,20%, sektor properti 2,14%, sektor consumer non-primer 1,69%, dan sektor keuangan 1,52%.
Sementara itu, sektor teknologi, infrastruktur, dan transportasi masih mencatat penguatan di tengah tekanan pasar.
Penurunan IHSG turut dipengaruhi kejatuhan sejumlah saham unggulan seperti ASII, INCO, UNTR, serta pelemahan saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

