Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (24/2/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melonjak 124,3 poin atau 1,5% ke level 8.396. Kenaikan tersebut mempertegas momentum positif pasar saham domestik di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
Pergerakan bursa Asia-Pasifik yang cenderung menguat pagi ini turut menjadi penopang sentimen. Kondisi itu terjadi berlawanan arah dengan Wall Street yang sebelumnya terkoreksi, di tengah kekhawatiran investor terhadap ancaman kenaikan tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta potensi disrupsi industri perangkat lunak akibat percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI).
Meski sentimen eksternal dibayangi ketidakpastian, pelaku pasar domestik dinilai masih melihat ruang penguatan, terutama ditopang aksi beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor berbasis komoditas.
Sejumlah sekuritas pun merilis rekomendasi saham pilihan untuk strategi trading jangka pendek.
Saham Konsumer dan Telekomunikasi Jadi Andalan
Mandiri Sekuritas melihat peluang penguatan lanjutan pada saham sektor defensif dan telekomunikasi. Saham Unilever Indonesia (UNVR) direkomendasikan buy dengan target harga 2.420 dari posisi penutupan 2.370 dan stop loss di 2.340.
Rekomendasi serupa juga diberikan untuk HM Sampoerna (HMSP) dengan target 940 serta batas stop loss 905. Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dinilai menarik dengan target 2.380 dan stop loss 2.300.
Secara umum, sektor konsumer dinilai relatif defensif di tengah ketidakpastian global, sedangkan emiten telekomunikasi berpotensi mendapatkan katalis dari pertumbuhan trafik data dan digitalisasi.
Saham Tambang dan Energi Spekulatif
Dari sisi saham berbasis komoditas, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham speculative buy.
Saham tambang seperti Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Aneka Tambang (ANTM) dinilai masih memiliki ruang kenaikan dalam jangka pendek, seiring fluktuasi harga logam global.
Selain itu, saham energi dan pertambangan lainnya seperti Petrosea (PTRO), Merdeka Battery Materials (MBMA), serta Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) juga masuk radar trading, dengan rentang target harga yang relatif agresif namun disertai batas cut loss ketat.
Saham kendaraan listrik VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) pun direkomendasikan untuk speculative buy, mencerminkan minat pasar terhadap tema transisi energi.
Emiten Big Caps dan Teknologi Masih Dilirik
Sementara itu, MNC Sekuritas menyoroti sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham Adaro Energy Indonesia (ADRO) direkomendasikan speculative buy dengan target bertahap di 2.440 hingga 2.540.
Untuk strategi buy on weakness, analis merekomendasikan Astra International (ASII), XL Axiata (EXCL), serta GoTo Gojek Tokopedia (GOTO). Saham teknologi seperti GOTO dinilai mulai menunjukkan akumulasi, meski pergerakannya masih tertahan area resistance jangka menengah.
Ruang Naik Terbuka, Risiko Tetap Ada
Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki peluang menguji area resistance 8.400–8.500 dalam waktu dekat. Namun, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai volatilitas global, khususnya perkembangan kebijakan perdagangan AS serta dinamika sektor teknologi global yang bisa memicu rotasi aset.
Dengan kombinasi sentimen regional yang membaik dan rekomendasi selektif dari para analis, pasar saham domestik berpotensi mempertahankan momentum, setidaknya dalam jangka pendek.

