Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Senin (11/5/2026), di tengah tekanan sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar.
Sebagai catatan, IHSG ditutup merosot 2,86% ke level 6.969,40 pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Koreksi tajam tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap sejumlah isu eksternal maupun kebijakan domestik.
VP of Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, memproyeksikan IHSG bergerak cenderung melemah dengan level support di 6.892 dan resistance di 7.095.
Secara teknikal, indikator MACD menunjukkan pelemahan tren, sejalan dengan RSI yang bergerak turun.
Menurut Audi, salah satu sentimen utama yang membebani pasar adalah kekhawatiran terhadap usulan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2025 terkait kenaikan tarif royalti sektor pertambangan.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan margin emiten tambang di tengah kenaikan harga komoditas global. Untuk komoditas emas, misalnya, tarif dasar royalti diusulkan naik dari 7% menjadi 14%.
Sementara itu, tarif efektif royalti tembaga berpotensi meningkat dari 10% menjadi 12%, dengan asumsi harga rata-rata tembaga 2026 sebesar US$12.655 per ton.
“Hal ini cenderung memberikan dampak pada margin emiten terkait dan direspons negatif oleh pasar,” ujar Audi, Minggu (10/5/2026).
Selain faktor domestik, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Hingga saat ini kedua negara masih berada dalam masa negosiasi komprehensif selama 30 hari.
Audi menilai apabila negosiasi gagal mencapai kesepakatan, kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik militer dapat kembali meningkat.
Sentimen lain yang turut diperhatikan pasar adalah kekhawatiran penyebaran varian Hantavirus di Indonesia, yang dinilai dapat memicu reposisi investor ke saham-saham sektor kesehatan.
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menambahkan pelaku pasar juga masih menunggu hasil peninjauan indeks MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 13 Mei 2026.
Ia mencermati adanya antisipasi investor, khususnya pada saham-saham konglomerasi yang berpotensi terdampak hasil rebalancing MSCI.
Menurut Hans, perdagangan pekan ini yang hanya berlangsung tiga hari juga membuat pelaku pasar cenderung mengurangi spekulasi.
Ia memproyeksikan IHSG bergerak dengan support di area 6.900–6.850 dan resistance pada level 7.000–7.207.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam tekanan, meski dalam timeframe mingguan indeks masih mencatat penguatan.
Dalam skenario terburuk, IHSG diproyeksikan terkoreksi ke rentang 6.645–6.838. Sedangkan dalam skenario terbaik, indeks berpotensi menguat menguji area 7.207–7.418.
MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness pada sejumlah saham, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) di kisaran Rp9.275–Rp9.425, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) pada rentang Rp438–Rp464, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di area Rp5.125–Rp5.350, serta PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) di kisaran Rp625–Rp645.
Adapun saham pilihan dari Kiwoom Sekuritas jatuh pada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan rekomendasi speculative buy, support di Rp880 dan resistance Rp1.000.
Selain itu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) direkomendasikan trading buy dengan support di Rp1.380 dan resistance Rp1.590.

