Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berada pada kisaran support 7.222–7.117 dan resistance 7.482–7.590 pada perdagangan Kamis (12/3/2026). Investor disarankan fokus pada saham berfundamental kuat, valuasi murah, serta saham yang menunjukkan potensi pembalikan tren dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.
Senior Technical Analyst Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam fase bearish consolidation. Kondisi ini tercermin dari indikator Stochastic K_D dan RSI yang memberikan sinyal negatif disertai penurunan volume transaksi.
“Market masih bersikap hati-hati mengingat konflik Iran masih terus berlangsung tanpa ada tanda-tanda akan berakhir,” kata Nafan.
Ia menambahkan, ketegangan geopolitik meningkat setelah Donald Trump mengancam meningkatkan serangan Amerika Serikat terhadap Iran menyusul laporan mengenai penempatan ranjau laut oleh Teheran di sekitar Selat Hormuz.
Menurut Nafan, situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia serta memperbesar tekanan terhadap perekonomian global. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,4 persen secara tahunan sehingga membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Ia menilai dinamika global tersebut juga berpotensi membuat kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi lebih dilematis karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan subsidi energi, menekan APBN, serta memicu risiko inflasi dan pelemahan rupiah.
Sementara itu, riset MNC Sekuritas menyebut IHSG masih berada dalam tekanan jual setelah terkoreksi 0,69 persen ke level 7.389. Secara teknikal, indeks diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi ke area 7.265–7.298 dengan peluang penguatan terbatas di kisaran 7.573–7.701.
MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati, yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Barito Pacific Tbk, PT J Resources Asia Pasifik Tbk, dan PT Telkom Indonesia Tbk.

