Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan 6–10 April 2026 diperkirakan masih dibayangi ketidakpastian pasar global. Tekanan utama datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah serta dinamika data ekonomi Amerika Serikat yang memengaruhi sentimen investor.
Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang resistance di level 7.100, pivot 7.000, dan support 6.900.
Dari pasar global, bursa saham Wall Street tercatat libur pada Jumat (3/4/2026), sementara pada perdagangan Kamis (2/4/2026) indeks utama ditutup bervariasi. Pergerakan pasar cenderung fluktuatif seiring lonjakan harga minyak mentah, dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan konflik dengan Iran masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
“IHSG dan pasar global bergerak fluktuatif di tengah kenaikan harga minyak, sebelum berbalik dari tekanan setelah muncul kabar Iran bekerja sama dengan Oman untuk memantau kapal di Selat Hormuz,” tulis Phintraco Sekuritas.
Namun demikian, ketegangan belum mereda. Iran dilaporkan menembak jatuh dua pesawat tempur AS, disertai serangan rudal di dekat fasilitas nuklirnya. Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas pasar keuangan global.
Di sisi lain, data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan ekonomi yang masih solid. Nonfarm payrolls tercatat bertambah 178 ribu pada Maret 2026—tertinggi sejak Desember 2024—sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%. Ke depan, pelaku pasar juga menantikan sejumlah rilis penting seperti notulen FOMC, data inflasi, ISM Services PMI, hingga indeks sentimen konsumen.
Phintraco menilai, perkembangan konflik Timur Tengah akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek. Investor akan mencermati apakah terjadi de-eskalasi atau justru konflik berkepanjangan, termasuk kepastian pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Presiden Trump bahkan memberikan ultimatum kepada Iran hingga 6 April untuk membuka kembali jalur tersebut atau menghadapi eskalasi militer lebih lanjut.
Dari dalam negeri, pasar juga akan diwarnai sejumlah rilis data penting, seperti cadangan devisa pada 8 April serta indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif pada 10 April 2026.
Phintraco mengingatkan, jika konflik berlarut-larut dan harga minyak bertahan tinggi, maka tekanan terhadap fiskal Indonesia berpotensi meningkat. Pemerintah bisa menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga energi melalui subsidi atau mempertahankan kesehatan APBN.
“Kondisi ini berpotensi memicu capital outflow dan melanjutkan depresiasi Rupiah,” tulis Phintraco.
Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG diperkirakan kembali menguji area 6.900 hingga 7.000 dalam waktu dekat.
Meski pasar diliputi ketidakpastian, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati investor, yaitu:
PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN)
PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP)
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
Saham-saham tersebut dinilai memiliki potensi bertahan di tengah volatilitas pasar serta didukung sentimen sektoral masing-masing.

