Jakarta, (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan upaya bangkit setelah menguji area teknikal krusial. Sentimen global yang lebih kondusif, ditopang meredanya tensi geopolitik dan sinyal pendinginan ekonomi Amerika Serikat, menjadi katalis bagi pasar saham domestik untuk kembali mencari arah penguatan.
Senior Market Chartist Mirae Sekuritas, M Nafan Aji menilai, secara teknikal IHSG tengah re-attempting to rebound setelah sukses menguji ulang level Fibonacci retracement 61,8%, dengan dukungan peningkatan volume transaksi.
“Dari sisi teknikal, IHSG mulai membangun momentum rebound. Indikator moving average MA20 dan MA60 juga sudah membentuk positive crossover, yang membuka peluang penguatan lanjutan,” jelas Mirae Sekuritas dalam kajiannya.

Secara teknikal, support bursa berada di level 8.999 dan 8.945, sementara resistance terdekat berada di kisaran 9.075 hingga 9.122. Selama indeks mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang kenaikan jangka pendek dinilai masih terbuka.
Mirae Sekuritas merekomendasikan strategi accumulate selected stocks, dengan fokus pada saham-saham undervalued, saham yang memiliki prospek fundamental solid, serta saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren (trend reversal). Namun demikian, investor tetap diminta disiplin menerapkan manajemen risiko.
Dari sisi global, pasar memfaktorkan keputusan Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali rencana pemberlakuan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa, menyusul tercapainya kerangka awal kesepakatan terkait sengketa Greenland. Kebijakan ini meredakan kekhawatiran eskalasi perang dagang dan mendorong penguatan bursa global.
Selain itu, data klaim pengangguran mingguan AS yang dirilis sedikit lebih tinggi dari ekspektasi dipersepsikan sebagai sinyal awal pendinginan ekonomi. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi The Federal Reserve untuk tetap berada di jalur penurunan suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk saham.
Di sisi lain, musim laporan keuangan emiten teknologi AS untuk tahun buku 2025 juga mulai bergulir, memberikan tambahan katalis bagi pasar global.
Sentimen domestik turut memperkuat pergerakan IHSG. Investor mencermati peluncuran kemitraan pertumbuhan ekonomi Indonesia–Inggris yang difokuskan pada pengembangan energi bersih dan peluang investasi strategis. Indonesia juga memperoleh apresiasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai salah satu perekonomian dengan kinerja menonjol secara global.
Optimisme semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Davos. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia juga terus mendorong reformasi sistem pembayaran guna memperkuat ekonomi digital, meningkatkan efisiensi transaksi, serta memperluas inklusi keuangan.
Wall Street Menguat, Nasdaq Pimpin Reli
Dari Amerika Serikat, Wall Street ditutup menguat seiring meredanya tensi geopolitik dan rilis data ekonomi yang solid. Produk domestik bruto (GDP) AS kuartal III-2025 tumbuh 4,4% secara tahunan, sedikit di atas estimasi sebelumnya sebesar 4,3%, sekaligus menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2023.
Sementara itu, indeks harga PCE—indikator inflasi pilihan The Fed—naik menjadi 2,8% (yoy) pada November, dari sebelumnya 2,7%. Meski naik, pasar menilai inflasi masih cukup terkendali.
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi penggerak utama, dengan Meta melonjak 5,7%, Arm Holdings naik 4,6%, Tesla menguat 4,2%, dan Salesforce bertambah 2,9%. Indeks Nasdaq memimpin penguatan dengan kenaikan 0,9%, disusul Dow Jones dan S&P 500 yang masing-masing naik 0,6%.
Eropa Ikut Rally
Sentimen positif juga menjalar ke pasar Eropa. Pernyataan Trump terkait pembatalan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa mendorong reli bursa regional. Indeks Stoxx 600 pan-Eropa melonjak 1,1%, mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap stabilitas hubungan dagang.
Dengan kombinasi sentimen global yang lebih ramah risiko dan dukungan teknikal yang mulai membaik, pelaku pasar kini menanti apakah IHSG mampu menembus area resistance untuk mengonfirmasi fase pemulihan berikutnya.

