Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terkoreksi tajam hampir 7% dalam sepekan, dari level 7.663 di awal pekan menjadi 7.129 pada penutupan Jumat (24/4/2026).
Tekanan pasar dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk keputusan MSCI Inc. yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan pasar saat ini perlu dilihat dalam konteks global yang masih penuh ketidakpastian.
“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan karena krisis kebijakan yang ekstrem,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Nilai tukar rupiah sendiri ditutup di level Rp17.278 per dolar AS pada 23 April 2026, atau melemah sekitar 3,5% sejak awal tahun. Meski tertekan, kinerja rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang negara berkembang lain seperti rupee India dan lira Turki.
Keputusan MSCI membekukan rebalancing dilakukan sambil mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru otoritas pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15%.
Selain itu, MSCI juga menunda penyesuaian Foreign Inclusion Factors (FIF) serta perubahan klasifikasi sejumlah saham Indonesia dalam indeks globalnya.
Di tengah tekanan tersebut, otoritas domestik tetap menunjukkan progres reformasi. Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia telah menyelesaikan empat dari delapan agenda reformasi transparansi pasar modal.
Langkah tersebut meliputi publikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan di atas 1%, perluasan klasifikasi investor, hingga penerapan aturan minimum free float 15%.
Menurut Rully, reformasi ini menjadi sinyal positif yang sempat mendorong penguatan IHSG sejak awal April.
“Pasar kini akan mencermati sejauh mana konsistensi reformasi dapat dipertahankan dan bagaimana MSCI menilai efektivitasnya,” jelasnya.
Sejak pengumuman reformasi pada 2 April 2026, IHSG sempat menguat sekitar 8% sebelum kembali tertekan oleh volatilitas global.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada MSCI Index Review pada 12 Mei 2026 serta Market Accessibility Review pada Juni 2026, yang akan menjadi penentu arah pasar domestik dan persepsi investor global terhadap Indonesia.

