Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Industri»Harga Polyester Melonjak, Industri Fast Fashion Global Tertekan

Harga Polyester Melonjak, Industri Fast Fashion Global Tertekan

Industri Muthia Hanifah24 April 2026 / 18:30 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Industri tekstil (Foto: Tutur/Antara/Septianda Perdana)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai mengguncang industri fast fashion global. Dampaknya terasa pada rantai pasok polyester di Asia yang menjadi pusat produksi pakaian dunia.

Kenaikan biaya ini bahkan dilaporkan mencapai hampir 30% pada sejumlah bahan baku utama. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga pakaian.

Dilansir dari Reuters, Jumat 24 April 2026, kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku seperti purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG). Gangguan pasokan dari Timur Tengah serta kenaikan harga dari pemasok China memperparah tekanan.

Produsen tekstil di Asia mulai kesulitan menjaga stabilitas produksi akibat ketergantungan pada bahan berbasis minyak.

Tekanan tidak hanya terjadi di tingkat bahan baku, tetapi juga merambat ke proses produksi. CEO Bindal Silk Mills, Avichal Arya, menyebut biaya bahan kimia dan pewarna meningkat drastis akibat krisis energi. Kondisi tersebut juga diperparah oleh berkurangnya tenaga kerja akibat kelangkaan energi.

“Kami tidak mampu memenuhi permintaan global secara optimal saat ini,” ujar Avichal Arya.

Polyester merupakan bahan utama dalam industri tekstil global, dengan kontribusi sekitar 59% dari total produksi serat dunia. Karena berasal dari turunan minyak, bahan ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz turut memperketat pasokan bahan baku. Dampak ini tidak hanya terasa di tingkat produksi, tetapi juga merambat ke pasar global.

Di sisi hilir, sejumlah brand fast fashion global masih belum merasakan dampak langsung. Hal ini karena mereka telah mengamankan stok melalui pembelian sebelumnya. CEO Associated British Foods, George Weston, menyebut inflasi biaya baru akan terasa jika pembelian dilakukan saat ini.

Baca Juga  Iran Luncurkan Serangan Gelombang ke-81, Rudal Ditempeli Gambar Yazid bin Muawiyah

Tanda-tanda kenaikan harga mulai terlihat di tingkat pemasok. Dilansir dari Reuters, sejumlah produsen di Bangladesh mulai mengajukan kenaikan harga kepada brand global seperti H&M. Jika tren ini berlanjut, biaya produksi kemungkinan akan diteruskan ke konsumen. Artinya, kenaikan harga pakaian menjadi semakin sulit dihindari.

Di sisi produksi, dampak sudah terlihat di lapangan. Beberapa pabrik tekstil di India melaporkan penurunan produksi dari 10.000 meter per hari menjadi sekitar 3.500 hingga 4.000 meter. Bahkan, sebagian pabrik terpaksa mengurangi hari operasional untuk menekan biaya. Hal ini menunjukkan tekanan yang semakin nyata di sektor industri tekstil.

Tidak hanya industri pakaian, sektor sepatu juga ikut terdampak. Banyak komponen sepatu menggunakan bahan berbasis petrokimia seperti karet sintetis dan busa. Reuters mencatat setidaknya ada 25 komponen sepatu yang bergantung pada bahan turunan minyak.

Tekanan biaya yang terus meningkat membuka potensi terjadinya “demand destruction” atau penurunan permintaan. Ketika harga naik, konsumen cenderung menahan pembelian. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengubah pola konsumsi di industri fast fashion. Kenaikan harga bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi risiko nyata yang kini membayangi industri fast fashion global.

Dampak perang Timur Tengah Industri tekstil nasional Perang Iran Tekstil
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKPU Siapkan Dapil Khusus IKN di Pemilu 2029
Next Article Presiden Prabowo Panggil Kapolri ke Hambalang, Ada Apa Ini?

Berita Lainnya

Kemenperin Cetak 2.369 Lulusan Vokasi Industri, Tingkat Penyerapan Kerja Capai 63,7%

17 Juli 2026 / 10:54 WIB

Gencatan Senjata Runtuh! Langit Kuwait dan Bahrain Mencekam

16 Juli 2026 / 22:58 WIB

Telah Keluar Perintah Iran untuk Houthi Yaman, Blokade Laut Merah!

16 Juli 2026 / 22:01 WIB

Pelindo dan Arab Saudi Jajaki Kerja Sama Pelabuhan, Bahas Investasi hingga Pelayaran Langsung

16 Juli 2026 / 15:37 WIB

Iran Lancarkan Serangan Balasan, Perdamaian Terancam Retak!

27 Juni 2026 / 20:26 WIB

AS Meluncurkan Serangan Udara ke Iran, Jalan Damai Masih Abu-abu

27 Juni 2026 / 10:42 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Prabowo Klaim Banyak Orang Takut Program MBG Berhasil

Kristo Suryokusumo30 April 2026 / 17:00 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.