Washington (tutur.co.id) — Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak setelah Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran pada Jumat (26/6). Sebanyak enam pesawat tempur AS dikabarkan menggempur empat target strategis di negara tersebut.
Informasi ini pertama kali diungkapkan oleh jurnalis senior PBS News, Nick Schifrin, melalui akun X (sebelumnya Twitter) miliknya dengan mengutip pernyataan dari seorang pejabat tinggi AS.
“Seorang pejabat AS mengatakan kepada saya bahwa 6 pesawat AS menyerang 4 target Iran: instalasi radar serta penyimpanan rudal dan drone di Sirik, Iran,” tulis Schifrin.
Eskalasi di Selat Hormuz
Media AS, Axios, juga mengonfirmasi laporan serupa dari sumber internal pemerintahan. Serangan udara masif ini dilaporkan terkonsentrasi di sekitar kawasan vital Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan maritim dan logistik minyak paling penting di dunia.
Operasi militer ini dilancarkan hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan kecaman keras terhadap Teheran. Trump mengeklaim bahwa Republik Islam Iran telah melakukan pelanggaran “bodoh” terhadap perjanjian gencatan senjata yang sedang berjalan dengan AS.
Tuduhan tersebut menyusul adanya dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang berlayar melewati jalur air tersebut.
Respons dan Dampak di Lapangan
Di sisi lain, media pemerintah Iran memberikan konfirmasi awal mengenai adanya proyektil yang jatuh di wilayah mereka. Mengutip lembaga penyiaran negara IRIB, Press TV melaporkan bahwa dua proyektil terpantau menghantam sebuah menara telekomunikasi di dekat kota Sirik.
Hingga saat ini, situasi di kawasan Selat Hormuz dilaporkan masih dipantau ketat oleh komunitas internasional, seiring dengan kekhawatiran akan terjadinya aksi balasan yang dapat memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

