Jakarta (tutur.co.id) — Harga batu bara global kembali menguat tajam pada Jumat (27/3/2026), mendekati level tertinggi sejak Oktober 2024, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan energi dunia. Lonjakan ini dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong premi risiko energi tetap tinggi dan memicu pergeseran konsumsi ke batu bara.
Berdasarkan acuan pasar Newcastle, harga kontrak Maret 2026 naik US$0,5 ke level US$135,6 per ton, sementara April 2026 melonjak menjadi US$143,85 per ton dan Mei 2026 mencapai US$148,25 per ton. Kenaikan ini mencerminkan permintaan yang semakin kuat di tengah keterbatasan pasokan energi alternatif.
Mengutip data dari TradingView, harga batu bara bahkan telah menembus level US$140 per ton, mendekati posisi tertinggi dalam hampir satu setengah tahun terakhir. Penguatan ini terjadi seiring belum jelasnya upaya diplomatik untuk meredakan konflik yang melibatkan Iran.
Dalam perkembangan terbaru, Donald Trump dilaporkan memperpanjang tenggat waktu potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari guna membuka ruang negosiasi. Namun di saat yang sama, Amerika Serikat disebut tengah mempertimbangkan pengiriman tambahan pasukan ke kawasan tersebut, yang semakin memperkuat ketidakpastian di pasar energi global.
Sejak konflik berlangsung, harga batu bara tercatat telah melonjak lebih dari 20 persen. Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dan gas membuat sejumlah negara kembali meningkatkan ketergantungan pada batu bara sebagai sumber energi alternatif untuk menjaga pasokan listrik.
Langkah tersebut juga terlihat dari kebijakan Jepang yang mulai meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara guna mengantisipasi guncangan energi. Kondisi ini mempertegas peran batu bara sebagai energi penyangga di tengah krisis pasokan global.
Di sisi lain, pergerakan harga di pasar Rotterdam menunjukkan tren yang lebih beragam. Kontrak Maret 2026 justru turun ke US$119,55 per ton, sementara April relatif stabil di US$122,75 per ton dan Mei sedikit menguat ke US$128,55 per ton, mencerminkan dinamika permintaan regional yang berbeda.
Dengan latar belakang ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi dan potensi gangguan pasokan energi yang berlanjut, harga batu bara diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek. Kenaikan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa transisi energi global masih menghadapi tantangan besar, terutama ketika krisis mendorong negara-negara kembali bergantung pada energi fosil.

