Teheran (tutur.co.id) – Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Narges Mohammadi harus dilarikan ke rumah sakit setelah kondisinya memburuk di penjara Iran. Perempuan 54 tahun ini dipenjara pemerintah Iran sejak Desember lalu.
Narges Mohammadi dikabarkan kesehatannya menurun drastic dan beberapa kali tak sadarkan diri di dalam penjara. Ia juga kedapatan mengalami seranga jantung dan harus dilarikan ke Rumah Sakit di Kota Zanjan pada Jumat kemarin waktu Iran.
“Segera dipindahkan ke rumah sakit di Zanjan hari ini menyusul penurunan kesehatan yang sangat parah, termasuk dua episode kehilangan kesadaran total dan krisis jantung yang parah,” tulis pernyataan resmi Yayasan Narges Mohammadi, Minggu 3 Mei 2026.
“Pemindahan ini dilakukan sebagai kebutuhan yang tak terhindarkan setelah dokter penjara menentukan bahwa kondisinya tidak dapat ditangani di tempat, meskipun ada rekomendasi medis yang menyatakan bahwa ia harus dirawat oleh tim spesialisnya di Teheran,” tambah pernyataan resmi yayasan.
Kabar terbaru dari Narges ini membuat Sekretariat Komite Nobel Norwegia yang menganugerahkan hadiah tersebut pada tahun 2023 merasa prihatin dan mendesak pemerintah Iran untuk membebaskan Narges Mohammadi segera.
Pemilik nama lengkap Narges Safie Mohammadi ini memang dikenal sangat vocal. Selain seorang jurnalis, ia juga aktivis hak asasi manusia (HAM). Ia mendapat penghargaan Nobel Perdamaian atas perjuangannya melawan penindasan terhadap perempuan dan penghapusan hukuman mati di Iran.
Narges Mohammadi ditangkap pada Desember 2025 lalu setelah mengecam kematian pengacara Khosrow Alikordi. Saat itu, ia dianggap membuat pernyataan provokatif pada upacara peringatan Alikordi di Kota Mashhad.
Dan pada bulan Februari 2026 lalu, beberapa minggu sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, ia mendapat hukuman tambahan selama 7,5 tahun karena dianggap telah membuat pernyataan provokatif selama di dalam penjara.

