Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
  • Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?
  • Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat
  • Mampukah Messi Menaklukkan Negeri yang Membesarkan Namanya?
  • Pasca Bencana Hidrometeorologi, Pemerintah Aceh Kerja Keras Pulihkan Akses Jalan
  • Layanan Shared Services Pertamina Raih Tiga Penghargaan Global di SSOW Impact Awards AustralAsia 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»News Update»Genjot Beras SPHP, Negara Diuji Menjaga Harga dan Nasib Petani

Genjot Beras SPHP, Negara Diuji Menjaga Harga dan Nasib Petani

News Update Gusti Tetiro16 Januari 2026 / 11:38 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Beras SPHP (Foto: UGM)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah kembali mengandalkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai rem darurat untuk menahan laju harga beras di pasar. Ketika harga di tingkat konsumen terus merangkak naik, penyaluran beras SPHP dinilai perlu digenjot agar daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, tidak semakin tergerus.

Namun, di balik urgensi stabilisasi harga, muncul satu pertanyaan mendasar: sampai sejauh mana intervensi negara mampu menenangkan pasar tanpa mengorbankan petani sebagai produsen utama?

Anggota Komisi IV DPR RI, Eko, mengingatkan bahwa kebijakan SPHP tidak boleh semata-mata berorientasi pada konsumen. Ia menegaskan, stabilisasi harga di pasar harus dilakukan dengan kehati-hatian agar tidak menekan harga gabah di tingkat petani.

“Sehingga stabilisasi harga di tingkat konsumen tidak merugikan harga gabah di tingkat produsen,” ujar Eko.

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali negara melepas cadangan beras ke pasar, kekhawatiran yang sama selalu muncul: harga gabah di sawah jatuh, sementara biaya produksi petani terus meningkat. Pupuk mahal, ongkos tenaga kerja naik, dan risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem belum sepenuhnya teratasi.

Bagi petani kecil, penurunan harga gabah meski hanya beberapa ratus rupiah per kilogram dapat berdampak signifikan pada pendapatan rumah tangga. Di sinilah kebijakan pangan diuji—apakah benar-benar adil bagi semua mata rantai, atau hanya menyelesaikan masalah di hilir.

Eko juga menekankan bahwa SPHP tidak seharusnya dipandang sebagai solusi tunggal jangka panjang. Ia mendorong pemerintah untuk melihat persoalan pangan secara lebih menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Menurut dia, penguatan produksi pangan nasional harus berjalan beriringan dengan perbaikan tata kelola cadangan beras dan pembenahan sistem distribusi. Tanpa itu, intervensi harga hanya akan menjadi kebijakan tambal sulam yang berulang dari tahun ke tahun.

Baca Juga  Video: Satu WNI Luka Bakar, Tiga ABK Masih Hilang di Perairan Hormuz

“SPHP adalah instrumen penting dalam kondisi tertentu, tetapi ketahanan pangan sejati hanya bisa dicapai jika produksi kuat, distribusi efisien, dan petani sejahtera,” kata Eko.

Ia menegaskan Komisi IV DPR akan terus mengawal kebijakan pangan agar benar-benar berpihak pada rakyat.

Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang lebih luas. Selama ini, persoalan pangan kerap dipahami sebatas ketersediaan dan harga di pasar. Padahal, ketahanan pangan juga menyangkut keberlanjutan produksi dan keadilan bagi petani. Tanpa insentif harga yang layak, regenerasi petani akan terus tersendat, dan ketergantungan pada impor bisa kembali membesar.

Data menunjukkan bahwa cadangan beras pemerintah melalui Bulog memang menjadi instrumen vital dalam meredam gejolak harga. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada waktu penyaluran, volume yang dilepas, serta koordinasi dengan kebijakan serapan gabah petani.

Jika penyaluran SPHP dilakukan tanpa diimbangi penyerapan gabah yang optimal, maka petani berpotensi menjadi pihak yang paling dirugikan.

Di sisi lain, konsumen perkotaan juga menghadapi tekanan. Kenaikan harga beras berdampak langsung pada inflasi dan beban rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadikan beras sebagai sumber pangan utama. Dalam konteks inilah SPHP menjadi alat penting negara untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

Persoalannya, keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen tidak pernah sederhana. Negara dituntut hadir secara aktif, bukan hanya sebagai pemadam kebakaran saat harga melonjak, tetapi sebagai pengelola sistem pangan yang berkelanjutan.

Peringatan Eko menegaskan satu hal: kebijakan pangan tidak boleh terjebak pada logika jangka pendek. Selama produksi nasional belum kokoh, distribusi masih timpang, dan kesejahteraan petani belum terjamin, stabilisasi harga akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang berulang.

Di tengah tekanan global dan perubahan iklim, tantangan pangan Indonesia kian kompleks. SPHP mungkin mampu menahan gejolak sesaat. Namun, masa depan ketahanan pangan ditentukan oleh keberanian negara membenahi fondasinya—dari sawah hingga meja makan.

Baca Juga  Video: Di Hadapan Macron, Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Diajarkan di Tiap Jenjang Sekolah
Beras Nasional Beras SPHP kesejahteraan petani
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleContoh Ambil Jeda, The Dudas-1 Liburan ke Yogya
Next Article Ini Agenda Ultah Kenaikan Tahta Sultan Keraton Yogyakarta

Berita Lainnya

Video: Mensesneg Benarkan Kuntadi Diusulkan Jadi Calon Jampidsus Kejagung

15 Juli 2026 / 16:00 WIB

Video: Ada Pejabat Simpan Emas 74 Kg, Bos BCA: Kurang Pintar Aja Itu

15 Juli 2026 / 15:00 WIB

Video: Mitra BGN Ultimatum Pemerintah, Ancam Gembok Dapur MBG Secara Nasional

15 Juli 2026 / 13:00 WIB

Video: Bantah Isu Penolakan RUU Perampasan Aset, Habiburokhman: Kita Gaspol Pakai Turbo!

14 Juli 2026 / 13:00 WIB

Video: Momen Hangat Kapolri dan Jaksa Agung, Saling Sapa “Sahabat” dan “Kakak Asuh”

14 Juli 2026 / 12:00 WIB

Video: Soroti Korupsi di Lingkungan BUMN, Prabowo Beri Peringatan Keras

13 Juli 2026 / 16:00 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Red Notice Terbit, Riza Chalid Diburu 196 Negara

Kristo Suryokusumo03 Februari 2026 / 19:30 WIB

Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB

18 Juli 2026 / 19:50 WIB

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”

18 Juli 2026 / 19:30 WIB

Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?

18 Juli 2026 / 19:25 WIB

Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat

18 Juli 2026 / 19:04 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.