Jakarta (tutur.co.id) – Minggu 7 Juni 2026 ini, genap seratus hari setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer ke Iran. Meski diwarnai genjatan senjata dan jalan panjang negosiasi namun perang di Kawasan Timur Tengah itu masih jauh dari dari kata damai. Berikut catatan-catatan penting Perang Iran dalam seratus hari.
Meski Iran harus kehilangan para pemimpin seniornya, itu tak lantas membuat langkah AS dan Israel mudah. Iran masih punya kendali dalam perang termasuk menguasai Selat Hormuz yang tak dipungkiri menjadi kartu AS Iran untuk membalas. Mengganggu salah satu jalur energi terpenting di dunia terbukti efektif.
Yang terbaru, meskipun ada gencatan senjata, Selat Hormuz sebagian besar tetap terblokir, ketegangan terus berlanjut di Lebanon, dan kesepakatan solid antara Washington dan Teheran masih belum juga tercapai. Nah, setelah 100 hari perang ini pecah, beberapa pertanyaan kunci muncul termasuk apakah Presiden Donald Trump telah mencapai keinginannya?
Tujuan Trump Memulai Perang
Trump berulang kali mengatakan tujuannya adalah untuk menghentikan Iran mengolah senjata nuklir, melemahkan kemampuan militer Teheran, dan memaksa negara itu untuk menerima perjanjian keamanan yang lebih luas dengan Amerika Serikat.
Lalu muncul lagi pertanyaan apakah tujuan Trump telah terwujud? Hanya sebagian. Tak dipungkiri kampanye militer AS tersebut menimbulkan kerusakan signifikan pada kepemimpinan dan infrastruktur militer Iran. Iran menderita kerugian besar dalam menghadapi tekanan berkelanjutan dari pasukan AS dan Israel.
Namun, banyak tujuan Trump yang lebih luas masih belum tercapai. Iran belum menerima semua tuntutan AS, belum ada kesepakatan komprehensif yang tercapai, dan konfrontasi regional masih terus berlanjut hingga saat ini.
Jika Iran melemah, mengapa konflik masih belum terselesaikan? Jawabannya mudah, karena Iran menguasai Selat Hormuz dan tetap menjadikannya negara kunci dalam keamanan regional. Mereka juga menjadi kunci dalam negosiasi di negara Kawasan termasuk Lebanon.
Banyak analis percaya bahwa perang apa pun yang melibatkan Iran pada akhirnya dapat meluas ke Selat Hormuz yang ujungnya akan membuat dunia terguncang dengan terganggunya pasokan minyak dan gas. Dan dalam 100 hari, terbukti Selat Hormuz bak menjadi medan perang paling menentukan hingga saat ini. Pengiriman barang tetap sangat terbatas meskipun ada upaya internasional untuk memulihkan navigasi normal.
Selat Hormuz dan Lebanon Menjadi Senjata Paling Mematikan Iran
Meskipun perang dilakukan dengan rudal dan drone, pengaruh terbesar Iran justru datang lewat status Selat Hormuz. Dengan mengganggu salah satu jalur energi tersibuk di dunia, Teheran membantu mendorong harga minyak lebih tinggi, meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, dan menunjukkan kemampuannya untuk memengaruhi ekonomi global jauh melampaui medan perang. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi terkadang sama kuatnya dengan kekuatan militer.
Gencatan senjata dan negosiasi yang masih rapuh membuat perang masih jauh dari kata damai. Gencatan senjata 6 April memang menghentikan permusuhan skala besar, tetapi tidak mengakhiri konflik. Kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran, sementara insiden rudal dan drone terus berlanjut di dalam dan sekitar Teluk.
Fakta yang tak kalah penting adalah tentang Lebanon. Negara markas Hizbullah ini menjadi instrument penting bagi Iran yang kerap menjadi salah satu ganjalan dari proses negosiasi. Israel terus melakukan operasi terhadap Hizbullah, sementara Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan yang langgeng harus membahas perkembangan di front Lebanon. Dan selama ketegangan masih terjadi di Lebanon, kemajuan diplomatik apapun dipastikan rentan.
Siapa yang Unggul dalam 100 Hari Perang?
Di permukaan memang terkesan AS dan Israel menang dalam perang ini. Namun sejatinya tak ada pihak yang benar-benar menang dalam perang ini. Amerika Serikat dan Israel dapat menunjukkan keberhasilan militer dan kerusakan signifikan yang ditimbulkan pada Iran. Namun Teheran telah menunjukkan bahwa mereka dapat terus memberikan tekanan ekonomi dan strategis melalui Teluk dan tetap menjadi pusat dari setiap kesepakatan di masa depan. Kedua belah pihak telah meraih keberhasilan, tetapi tidak satu pun yang mencapai semua tujuannya.
Di luar medan perang, konflik ini telah berubah menjadi tantangan ekonomi. Biaya pengiriman yang lebih tinggi, ketidakpastian pasar energi, dan gangguan perdagangan global telah memengaruhi negara-negara yang jauh di luar Timur Tengah. Bagi negara-negara Teluk dan ekonomi internasional yang lebih luas, Selat Hormuz tetap menjadi pengingat yang paling nyata bahwa konflik ini masih jauh dari selesai.
Tiga Skenario yang Mungkin Terjadi
Yang pertama adalah penyelesaian melalui negosiasi yang secara bertahap meredakan ketegangan dan memulihkan navigasi melalui Hormuz.
Yang kedua adalah periode panjang tidak ada perang, tidak ada perdamaian, yang ditandai dengan insiden sporadis dan kebuntuan diplomatik.
Yang ketiga adalah eskalasi baru yang dipicu oleh peristiwa di Teluk atau Lebanon.
Untuk saat ini, kawasan tersebut masih terjebak di antara perang dan perdamaian — 100 hari setelah konflik dimulai, penyelesaian yang langgeng masih sulit dicapai dan belum ada akhir yang jelas yang terlihat.

