Jakarta (tutur.co.id) – Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental kini semakin meningkat di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z. Perubahan cara pandang ini turut memengaruhi bagaimana mereka mempersiapkan diri menjalani peran sebagai orang tua.
Banyak anak muda mulai berkomitmen untuk memutus rantai intergenerational trauma, yaitu trauma psikologis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pola asuh, komunikasi, maupun kebiasaan dalam keluarga.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang hingga dewasa. Tidak sedikit individu yang tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh keras, minim validasi emosi, atau penuh tekanan tanpa menyadari bahwa pengalaman tersebut meninggalkan luka batin jangka panjang.
Trauma dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, luka psikologis justru muncul dari perlakuan yang dianggap “normal” selama bertahun-tahun.
Beberapa contoh yang kerap terjadi antara lain kritik berlebihan, sikap emosional yang dingin, tuntutan tidak realistis, hingga pola komunikasi yang membuat anak merasa tidak didengar.
Mengacu pada panduan yang dipublikasikan oleh Your Parenting Mojo, trauma lintas generasi sering terjadi tanpa disadari karena pola tersebut telah dianggap sebagai bagian biasa dalam keluarga.
Orang tua cenderung mengasuh anak berdasarkan pengalaman yang mereka terima semasa kecil, meskipun pola tersebut sebenarnya berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak di kemudian hari.
Kesadaran mengenai kesehatan mental membuat banyak Gen Z mulai mempertanyakan pola asuh yang mereka alami sejak kecil. Mereka mencoba mengenali berbagai red flags yang sebelumnya dianggap wajar dalam lingkungan keluarga.
Proses ini sering kali tidak mudah karena melibatkan refleksi terhadap pengalaman emosional yang menyakitkan. Namun, langkah tersebut dianggap penting agar siklus trauma tidak terus berulang.
Banyak anak muda mulai memahami bahwa komunikasi penuh kritik, kurangnya empati terhadap emosi anak, hingga disiplin berbasis ketakutan dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat saat dewasa.
Kesadaran tersebut kemudian mendorong meningkatnya perhatian terhadap konsep inner child healing. Istilah ini merujuk pada proses memahami dan menyembuhkan luka emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Alih-alih menekan pengalaman buruk, individu diajak mengenali kembali emosi masa kecil mereka, memahami dampaknya, lalu belajar membangun respons emosional yang lebih sehat.
Bagi sebagian Gen Z, proses penyembuhan ini menjadi bekal penting sebelum menjalani peran sebagai orang tua di masa depan.
Perubahan pola pikir generasi muda juga terlihat dari meningkatnya minat terhadap pola asuh yang lebih sehat dan suportif. Banyak calon orang tua kini mulai menempatkan komunikasi terbuka, validasi emosi, dan kedekatan emosional sebagai fondasi utama dalam keluarga.
Pendekatan ini berbeda dari pola asuh lama yang cenderung menekankan otoritas tanpa ruang dialog.
Kesadaran tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental kini tidak lagi dianggap isu sepele, melainkan bagian penting dalam membangun hubungan keluarga yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap intergenerational trauma menjadi tanda perubahan besar dalam cara memandang pola asuh dan kesehatan mental. Dengan mengenali luka masa lalu serta berupaya menyembuhkannya, generasi muda berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang lebih aman secara emosional bagi anak-anak mereka di masa depan. (sas)

