Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Perempuan»Gen Z Mulai Putus Rantai Intergenerational Trauma Lewat Pola Asuh yang Lebih Sehat

Gen Z Mulai Putus Rantai Intergenerational Trauma Lewat Pola Asuh yang Lebih Sehat

Perempuan Sasha Widiawati11 Mei 2026 / 11:39 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental kini semakin meningkat di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z. Perubahan cara pandang ini turut memengaruhi bagaimana mereka mempersiapkan diri menjalani peran sebagai orang tua.

Banyak anak muda mulai berkomitmen untuk memutus rantai intergenerational trauma, yaitu trauma psikologis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pola asuh, komunikasi, maupun kebiasaan dalam keluarga.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang hingga dewasa. Tidak sedikit individu yang tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh keras, minim validasi emosi, atau penuh tekanan tanpa menyadari bahwa pengalaman tersebut meninggalkan luka batin jangka panjang.

Trauma dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, luka psikologis justru muncul dari perlakuan yang dianggap “normal” selama bertahun-tahun.

Beberapa contoh yang kerap terjadi antara lain kritik berlebihan, sikap emosional yang dingin, tuntutan tidak realistis, hingga pola komunikasi yang membuat anak merasa tidak didengar.

Mengacu pada panduan yang dipublikasikan oleh Your Parenting Mojo, trauma lintas generasi sering terjadi tanpa disadari karena pola tersebut telah dianggap sebagai bagian biasa dalam keluarga.

Orang tua cenderung mengasuh anak berdasarkan pengalaman yang mereka terima semasa kecil, meskipun pola tersebut sebenarnya berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak di kemudian hari.

Kesadaran mengenai kesehatan mental membuat banyak Gen Z mulai mempertanyakan pola asuh yang mereka alami sejak kecil. Mereka mencoba mengenali berbagai red flags yang sebelumnya dianggap wajar dalam lingkungan keluarga.

Proses ini sering kali tidak mudah karena melibatkan refleksi terhadap pengalaman emosional yang menyakitkan. Namun, langkah tersebut dianggap penting agar siklus trauma tidak terus berulang.

Baca Juga  Memahami Kedukaan: Sikap dan Ucapan Duka yang Tepat

Banyak anak muda mulai memahami bahwa komunikasi penuh kritik, kurangnya empati terhadap emosi anak, hingga disiplin berbasis ketakutan dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat saat dewasa.

Kesadaran tersebut kemudian mendorong meningkatnya perhatian terhadap konsep inner child healing. Istilah ini merujuk pada proses memahami dan menyembuhkan luka emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Alih-alih menekan pengalaman buruk, individu diajak mengenali kembali emosi masa kecil mereka, memahami dampaknya, lalu belajar membangun respons emosional yang lebih sehat.

Bagi sebagian Gen Z, proses penyembuhan ini menjadi bekal penting sebelum menjalani peran sebagai orang tua di masa depan.

Perubahan pola pikir generasi muda juga terlihat dari meningkatnya minat terhadap pola asuh yang lebih sehat dan suportif. Banyak calon orang tua kini mulai menempatkan komunikasi terbuka, validasi emosi, dan kedekatan emosional sebagai fondasi utama dalam keluarga.

Pendekatan ini berbeda dari pola asuh lama yang cenderung menekankan otoritas tanpa ruang dialog.

Kesadaran tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental kini tidak lagi dianggap isu sepele, melainkan bagian penting dalam membangun hubungan keluarga yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap intergenerational trauma menjadi tanda perubahan besar dalam cara memandang pola asuh dan kesehatan mental. Dengan mengenali luka masa lalu serta berupaya menyembuhkannya, generasi muda berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang lebih aman secara emosional bagi anak-anak mereka di masa depan. (sas)

Gen Z intergenerational trauma kesehatan mental pola asuh sehat
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleTarif dan Syarat  Terbaru Perpanjangan SIM A Mei 2026
Next Article Menkeu Purbaya Tegur DJP Soal Gaduh Rencana Pemeriksaan Tax Amnesty Jilid II

Berita Lainnya

Tahun Ajaran Baru, 7 Hal yang Sering Dilupakan Orang Tua Selain Seragam dan Buku

11 Juli 2026 / 08:58 WIB

7 Tips Mengatur Anggaran Persiapan Sekolah Anak agar Dompet Tetap Aman

10 Juli 2026 / 14:20 WIB

Usia Boleh Bertambah, Tapi Emosi Belum Tentu Dewasa: Memahami Konsep Usia Emosional

23 Juni 2026 / 09:35 WIB

7 Tips Mengatur Screen Time Anak Saat Liburan Sekolah

22 Juni 2026 / 15:15 WIB

7 Camilan Sehat Temani Nobar Piala Dunia 2026 ala Ibu

15 Juni 2026 / 13:37 WIB

25 Pertanyaan Kencan Pertama yang Nggak Bikin Canggung, Bikin Obrolan Makin Nyambung

12 Juni 2026 / 13:07 WIB
Form Komentar Cancel Reply

UU P2SK: Bayang-Bayang Indonesia Menjadi Surga Pencucian Uang

Toto Pribadi25 Juni 2026 / 16:48 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.