Jakarta (tutur.co.id) — Aktivitas konsumsi masyarakat Indonesia sepanjang Ramadan hingga Idulfitri 2026 menunjukkan performa yang solid, bahkan melampaui capaian dua tahun terakhir. Momentum ini menegaskan ketahanan daya beli domestik, dengan kelompok kelas menengah—terutama generasi muda—menjadi penggerak utama di tengah dinamika ekonomi global.
Data Mandiri Institute menunjukkan Mandiri Spending Index (MSI) tumbuh 2,9% dibandingkan periode pra-Ramadan, sedikit lebih tinggi dibandingkan tren historis yang berada di kisaran 2,8%. Kenaikan ini mencerminkan kuatnya aktivitas belanja selama periode puncak konsumsi nasional.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengungkapkan bahwa kelompok kelas menengah menjadi penopang utama dengan pertumbuhan belanja mencapai 4,1%.
“Kelompok menengah menjadi penggerak utama akselerasi belanja, khususnya pada periode THR, sehingga berkontribusi besar terhadap penguatan konsumsi secara keseluruhan,” ujar Andry dalam keterangan resminya, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, pertumbuhan belanja kelompok menengah tercatat 1,4 hingga 2 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok bawah yang hanya tumbuh 2,1% dan kelompok atas sebesar 2,6%. Hal ini mempertegas posisi strategis kelas menengah dalam menjaga perputaran ekonomi, khususnya saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Dari sisi demografi, generasi Z (Gen Z) muncul sebagai kelompok dengan pertumbuhan konsumsi tertinggi, yakni mencapai 4,4%. Angka ini melampaui generasi milenial yang tumbuh 3% dan generasi X sebesar 1,4%, menunjukkan pergeseran perilaku konsumsi yang semakin didominasi kelompok usia muda.
Konsumsi rumah tangga sendiri masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Pada 2025, kontribusinya mencapai 53,88% terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pertumbuhan sebesar 4,98% secara tahunan. Angka ini jauh melampaui kontribusi investasi sebesar 28,77% dan ekspor sebesar 22,85%.
Menariknya, pola konsumsi masyarakat juga mengalami perubahan. Jika pada 2025 belanja lebih banyak difokuskan pada kebutuhan pokok, maka pada 2026 masyarakat mulai meningkatkan pengeluaran untuk sektor non-esensial.
Sektor fesyen mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,4%, diikuti perawatan kecantikan (beauty care) sebesar 4,9%, serta elektronik yang tumbuh 4,7%.
“Kenaikan pada kategori ini mencerminkan peningkatan kepercayaan diri masyarakat dalam melakukan konsumsi diskresioner selama periode Ramadan-Lebaran 2026,” tambah Andry.
Tim ekonom Bank Mandiri menilai penguatan konsumsi ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan. Stabilnya daya beli masyarakat dinilai tidak lepas dari efektivitas kebijakan pemerintah, kelancaran distribusi THR, serta semakin terintegrasinya ekosistem pembayaran digital di Indonesia.
Dengan tren tersebut, konsumsi domestik diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, sekaligus bantalan terhadap tekanan eksternal yang masih berlangsung di pasar global.

