London (tutur.co.id) – Dampak perang Iran mulai terasa di Inggris, dengan lonjakan inflasi yang dipicu kenaikan tajam harga minyak dunia. Data terbaru menunjukkan inflasi meningkat dari 3 persen menjadi 3,3 persen dalam periode Maret 2026. Kenaikan ini langsung menekan berbagai sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Kantor Statistik Nasional Inggris menyebut hampir seluruh sektor terdampak, terutama biaya produksi dan distribusi. Harga bahan baku serta biaya pengiriman barang melonjak signifikan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar kendaraan.

Dampaknya juga terasa pada kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan transportasi. Tarif penerbangan serta harga pangan naik lebih tinggi dari perkiraan. Meski demikian, sektor pakaian menjadi satu-satunya yang relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan besar.
Para ekonom memprediksi inflasi Inggris 2026 masih akan terus naik hingga mencapai 3,5 hingga 4 persen tahun ini. Salah satu penyebab utamanya adalah terganggunya distribusi minyak global akibat konflik di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Di tengah kondisi ini, Bank of England menghadapi dilema kebijakan moneter. Di satu sisi, suku bunga bisa dinaikkan untuk menekan inflasi. Namun di sisi lain, kenaikan biaya energi membuat daya beli masyarakat menurun, yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Jika suku bunga dinaikkan, biaya pinjaman dan kredit rumah akan ikut meningkat.
Sebaliknya, jika diturunkan, konsumsi masyarakat bisa terdorong, namun inflasi berpotensi semakin tinggi. Keputusan penting ini akan dibahas dalam pertemuan kebijakan moneter pekan depan.
Lonjakan harga BBM menjadi salah satu faktor paling mencolok, dengan kenaikan hingga 8,7 persen dalam satu bulan. Sementara itu, inflasi makanan juga naik menjadi 3,7 persen dan diperkirakan bisa mencapai 10 persen dalam beberapa bulan ke depan.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada wilayah perang, tetapi juga memengaruhi ekonomi negara lain. Pemerintah Inggris pun menegaskan bahwa menjaga stabilitas harga menjadi prioritas utama demi melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi yang semakin berat.

