Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah resmi membentuk BUMN ekspor baru, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), sebagai instrumen untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis sekaligus menambah cadangan devisa negara. Kehadiran DSI diproyeksikan mampu mendongkrak devisa hingga US$ 44 miliar atau sekitar Rp 778 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dolar AS.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Indonesia, Fithra Faisal, mengatakan pembentukan DSI diarahkan untuk menertibkan pencatatan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA), sekaligus menutup celah praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai menggerus potensi penerimaan negara.
Menurut Fithra, perbaikan tata kelola ekspor tersebut berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah hingga ke level Rp 16.900 per dolar AS. Selain itu, pembenahan administrasi perdagangan diyakini mampu menambah baseline pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,8%.
“Dengan adanya pencatatan yang lebih tertib, dengan mencatat saja, kita bisa mendapatkan potensi baseline tambahan pertumbuhan ekonomi 0,8 persen,” ujar Fithra dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Ia menjelaskan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap praktik manipulasi ekspor tersebut sudah berlangsung sejak satu setengah tahun terakhir. Berdasarkan kajian internal pemerintah, potensi kekayaan negara yang hilang akibat lemahnya pencatatan transaksi ekspor selama periode 1991–2024 diperkirakan mencapai Rp 15.400 triliun.
Nilai tersebut setara sekitar 64% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini yang berada di kisaran Rp 24.000 triliun.
Fithra menilai pembentukan badan konsolidasi ekspor bukan langkah baru dalam praktik global. Sejumlah negara seperti Qatar, Arab Saudi, Malaysia, hingga India telah lebih dahulu menerapkan model serupa untuk memperkuat kontrol perdagangan komoditas strategis.
Melalui DSI, pemerintah ingin membangun sistem tata kelola komoditas yang lebih transparan, akuntabel, dan dapat ditelusuri dari hulu hingga hilir. Langkah itu juga diharapkan memberi kepastian bisnis bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat stabilitas makroekonomi nasional dalam jangka panjang.
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai model badan ekspor khusus seperti DSI dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global, sebagaimana yang dilakukan Ghana dalam pengelolaan ekspor kakao.
Namun, ia mengingatkan efektivitas DSI akan sangat ditentukan oleh tata kelola perusahaan, integritas pimpinan, serta penerapan audit dan transparansi yang konsisten.
“Jadi tata kelola itu bisa diimplementasikan langsung sebetulnya. Seperti dengan soal masalah transparansi,” ujar Toto.
Sebagai tahap awal, DSI akan menangani ekspor sejumlah komoditas strategis seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy. Perusahaan tersebut resmi menjadi BUMN sejak Senin (25/5/2026).
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan DSI dibentuk sebagai entitas bisnis yang berorientasi profit di bawah ekosistem sovereign wealth fund Danantara.
Menurut Pandu, pembentukan DSI dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap praktik under invoicing dan transfer pricing yang masih terjadi dalam perdagangan komoditas SDA.
“Danantara Sumberdaya Indonesia dahulunya adalah karena the issue of under invoicing, the potential value transfer,” kata Pandu dalam Investor Daily Roundtable di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Sebagai mantan Ketua Asosiasi Batu Bara Indonesia, Pandu mengaku memahami berbagai modus manipulasi harga ekspor yang selama ini terjadi di sektor komoditas.
Ia mengungkapkan pemerintah sempat mempertimbangkan dua opsi dalam pembentukan DSI, yakni sebagai lembaga pemerintah biasa atau sekaligus operator bisnis. Setelah melalui berbagai pembahasan, pemerintah memutuskan DSI menjadi entitas bisnis yang tetap mengejar keuntungan.
“Nah di dalam Danantara sendiri, it will be mindset-nya for profit. Balik kepada Danantara sebagai sovereign wealth fund. Memang ini tabungan buat generasi berikutnya,” ujarnya.
Struktur kepemilikan DSI terdiri atas 99% milik Danantara dan 1% milik BP BUMN. Pandu menegaskan DSI akan dibangun secara profesional dengan perekrutan sumber daya manusia dari dalam maupun luar negeri.
Ia menyebut saat ini DSI baru memiliki satu pegawai, yakni Direktur Utama Luke Thomas Mahony.
“Sebagai perusahaan baru dibentuk Senin kemarin, pegawainya baru satu, Luke,” kata Pandu.
Ke depan, DSI akan merekrut tenaga profesional global, terutama di bidang perdagangan komoditas dan trade financing yang dinilai membutuhkan keahlian spesifik dan masih terbatas di Indonesia.

