Washington DC (Tutur.co.id) – Presiden Donald Trump kembali memicu perhatian dunia setelah menyatakan akan “membuka secara permanen” Selat Hormuz melalui unggahan di platform Truth Social, Rabu (15/4/2026).
Pernyataan singkat tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk, termasuk langkah blokade yang sebelumnya diumumkan. Tanpa penjelasan rinci, klaim Trump langsung memantik spekulasi luas, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyinggung rencana kunjungannya ke China serta hubungannya dengan Presiden Xi Jinping. Ia menyebut akan disambut hangat dalam kunjungan tersebut, pernyataan yang turut memunculkan dugaan adanya jalur diplomasi di tengah meningkatnya tensi global.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait agenda kunjungan tersebut maupun implikasinya terhadap situasi di Timur Tengah.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Trump masih berada pada tataran retorika politik. Pasalnya, implementasi “pembukaan permanen” jalur vital seperti Selat Hormuz sangat bergantung pada kondisi keamanan di lapangan serta dinamika militer yang terus berkembang.
Di sisi lain, Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap bentuk intervensi terhadap jalur pelayaran di kawasan itu akan dianggap sebagai ancaman langsung. Peringatan tersebut membuka kemungkinan respons militer jika situasi terus memanas.
Alih-alih meredakan ketegangan, pernyataan terbaru Trump justru menambah kompleksitas situasi di kawasan Teluk yang sudah berada dalam kondisi rapuh. Selat Hormuz pun kembali menjadi pusat perhatian dunia, bukan hanya sebagai jalur distribusi energi global, tetapi juga sebagai titik krusial dalam pertarungan geopolitik yang semakin intens.

