Jakarta (tutur.co.id) – Siapa yang tak kenal Dee Lestari, penyanyi sekaligus penulis di balik Supernova, Filosofi Kopi, hingga Perahu Kertas. Di balik popularitasnya, ada cerita menarik tentang keberaniannya beralih profesi jadi penulis.
Cerita itu terungkap dalam acara “Intrigue: Hari Buku Nasional” di Breezy Cafe Jakarta Escape, Jumat 15 Mei 2026. Dee duduk santai berbincang dengan Prof. Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan yang juga guru besar FEB UI.
Dalam obrolan itu, Dee mengaku musik dan menulis adalah dua sisi yang sudah ia tekuni sejak lama. Hanya saja, jalur musik memang lebih dulu terbuka baginya.
“Jalur nasib yang terbuka duluan adalah musik, sehingga publik mengenal saya sebagai penyanyi. Padahal di balik layar, saya sudah nulis dari tahun 1995,” kenang Dee.
Rhenald Kasali pun penasaran bagaimana tidak, Dee yang hampir setiap malam muncul di TV tiba-tiba memilih jadi penulis. Secara ekonomi, bernyanyi jelas lebih menguntungkan.
“Itu kan berisiko banget buat hidup ya, apalagi penulis cuma dapat 10 persen,” ujar Rhenald Kasali.
Dee hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu lalu melanjutkan cerita buku pertamanya, Supernova yang terbit tahun 2000an. Padahal ada karya lain yang lebih dulu ditulis, seperti Filosofi Kopi, tapi sempat disimpan di laci.
Rhenald Kasali mecoba mengingat terbitnya Filosofi Kopi berdampak tumbuhnya trend orang Indonesia mulai demam kopi, hal itu dibuktikan kedai kopi menjamur, barista jadi profesi keren.
“Filosofi Kopi itu masuknya tepat banget. Pas saat orang Indonesia mulai gandrung dengan kopi, lalu jadi tren kedai kopi dan profesi barista jadi keren,” katanya.
Saat sesi tanya jawab, Dee mengaku sebagai penulis yang disiplin. Ia menganggap menulis sebagai pekerjaan serius dan membiasakan diri menulis sampai anak-anak pulang sekolah.
“Saya batasi waktu kerja saya agar saat anak-anak di rumah, saya hadir buat mereka. Selain itu, saya rutin berolahraga saat masa menulis,” ujar Dee.
Sementara Rhenald Kasali punya ritual berbeda. Ia lebih suka menulis tangan dulu, bukan langsung di laptop.
Dee punya pandangan menarik soal kreativitas. Ia menyebutnya seperti bermain api kalau tak bisa mengendalikannya maka akan terbakar.
“Kreativitas itu liar, cara menjinakkannya adalah dengan disiplin. Saya kasih deadline ke diri sendiri, misalnya 3 bulan harus selesai,” tegas Dee.
Tips lain, agar pembaca hanyut dalam cerita, penulis harus menghidupkan karakternya terlebih dulu.
“Kalau saya mau nulis adegan lucu, saya harus tertawa duluan. Kalau tokoh saya jatuh cinta, saya pun harus merasakannya,” ucapnya.
Soal buku fisik versus digital, Dee mengaku tetap lebih suka buku fisik sebab ada sensasi yang tak bisa diganti seperti mencium bau kertas, merasakan beban buku di tangan, mata yang tak cepat lelah.
“Saya merasa bersyukur karena cara kita mengonsumsi musik sudah berubah jauh ke digital, tapi buku kurang lebih masih sama,” katanya.
Senada, Rhenald Kasali mengatakan membaca digital membuatnya selalu ingin skip terus karena bisa di-scroll. Lain halnya dengan buku fisik, bisa menghayati kata per kata, mencoret-coret bahkan memberi garis bawah.
“Saya ingat waktu SMA, dapat buku warisan dari sekolah. Di situ ada nama senior seperti Soe Hok Gie. Imajinasi saya melayang membayangkan mereka dulu membaca buku yang sama,” kenangnya.
Lanjutnya penulis Perahu Kertas itu menyinggung era media sosial yang penuh konten pendek, Dee menegaskan pentingnya membaca buku tebal atau long reading.
Sebab, membaca buku melatih literasi kritis, pemahaman, dan kemampuan melihat konteks yang lebih besar.
“Jika ingin jadi orang yang berpikir kritis dan punya kecakapan emosional, kita harus membaca yang utuh (buku),” tegas Dee.
Ia juga mencermati tren positif, generasi Alpha dan Z mulai muak dengan layar, sebagian banyak yang menjadikan toko buku sebagai tempat nongkrong.
“Tugas penulis adalah membuat bacaan semenarik mungkin. Prestasi bagi saya adalah ketika pembaca bilang mereka tidak bisa berhenti baca sampai lupa cek HP. Penulis harus memberi alasan bagi orang untuk terdistraksi dari gawai mereka lewat karya yang berkualitas,” pungkas Dee.
Saat ini, Dee sedang mengerjakan proyek baru sebuah buku non-fiksi yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

