Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Podcast»Dari Panggung ke Pena: Rhenald Kasali Bedah Perjalanan Dee Lestari Jadi Penulis

Dari Panggung ke Pena: Rhenald Kasali Bedah Perjalanan Dee Lestari Jadi Penulis

Podcast Ahmad Nuryaman15 Mei 2026 / 15:15 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Siapa yang tak kenal Dee Lestari, penyanyi sekaligus penulis di balik Supernova, Filosofi Kopi, hingga Perahu Kertas. Di balik popularitasnya, ada cerita menarik tentang keberaniannya beralih profesi jadi penulis.

Cerita itu terungkap dalam acara “Intrigue: Hari Buku Nasional” di Breezy Cafe Jakarta Escape, Jumat 15 Mei 2026. Dee duduk santai berbincang dengan Prof. Rhenald Kasali, pendiri Rumah Perubahan yang juga guru besar FEB UI.

Dalam obrolan itu, Dee mengaku musik dan menulis adalah dua sisi yang sudah ia tekuni sejak lama. Hanya saja, jalur musik memang lebih dulu terbuka baginya.

“Jalur nasib yang terbuka duluan adalah musik, sehingga publik mengenal saya sebagai penyanyi. Padahal di balik layar, saya sudah nulis dari tahun 1995,” kenang Dee.

Rhenald Kasali pun penasaran bagaimana tidak, Dee yang hampir setiap malam muncul di TV tiba-tiba memilih jadi penulis. Secara ekonomi, bernyanyi jelas lebih menguntungkan.

“Itu kan berisiko banget buat hidup ya, apalagi penulis cuma dapat 10 persen,” ujar Rhenald Kasali.

Dee hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu lalu melanjutkan cerita buku pertamanya, Supernova yang terbit tahun 2000an. Padahal ada karya lain yang lebih dulu ditulis, seperti Filosofi Kopi, tapi sempat disimpan di laci.

Rhenald Kasali mecoba mengingat terbitnya Filosofi Kopi berdampak tumbuhnya trend orang Indonesia mulai demam kopi, hal itu dibuktikan kedai kopi menjamur, barista jadi profesi keren.

“Filosofi Kopi itu masuknya tepat banget. Pas saat orang Indonesia mulai gandrung dengan kopi, lalu jadi tren kedai kopi dan profesi barista jadi keren,” katanya.

Saat sesi tanya jawab, Dee mengaku sebagai penulis yang disiplin. Ia menganggap menulis sebagai pekerjaan serius dan membiasakan diri menulis sampai anak-anak pulang sekolah.

Baca Juga  Purbaya Beberkan Indikator Perekonomian Indonesia Masih Baik-baik Saja

“Saya batasi waktu kerja saya agar saat anak-anak di rumah, saya hadir buat mereka. Selain itu, saya rutin berolahraga saat masa menulis,” ujar Dee.

Sementara Rhenald Kasali punya ritual berbeda. Ia lebih suka menulis tangan dulu, bukan langsung di laptop.

Dee punya pandangan menarik soal kreativitas. Ia menyebutnya seperti bermain api kalau tak bisa mengendalikannya maka akan terbakar.

“Kreativitas itu liar, cara menjinakkannya adalah dengan disiplin. Saya kasih deadline ke diri sendiri, misalnya 3 bulan harus selesai,” tegas Dee.

Tips lain, agar pembaca hanyut dalam cerita, penulis harus menghidupkan karakternya terlebih dulu.

“Kalau saya mau nulis adegan lucu, saya harus tertawa duluan. Kalau tokoh saya jatuh cinta, saya pun harus merasakannya,” ucapnya.

Soal buku fisik versus digital, Dee mengaku tetap lebih suka buku fisik sebab ada sensasi yang tak bisa diganti seperti mencium bau kertas, merasakan beban buku di tangan, mata yang tak cepat lelah.

“Saya merasa bersyukur karena cara kita mengonsumsi musik sudah berubah jauh ke digital, tapi buku kurang lebih masih sama,” katanya.

Senada, Rhenald Kasali mengatakan membaca digital membuatnya selalu ingin skip terus karena bisa di-scroll. Lain halnya dengan buku fisik, bisa menghayati kata per kata, mencoret-coret bahkan memberi garis bawah.

“Saya ingat waktu SMA, dapat buku warisan dari sekolah. Di situ ada nama senior seperti Soe Hok Gie. Imajinasi saya melayang membayangkan mereka dulu membaca buku yang sama,” kenangnya.

Lanjutnya penulis Perahu Kertas itu menyinggung era media sosial yang penuh konten pendek, Dee menegaskan pentingnya membaca buku tebal atau long reading.

Sebab, membaca buku melatih literasi kritis, pemahaman, dan kemampuan melihat konteks yang lebih besar.

Baca Juga  Tutur PoV: Gaya Komunikasi Meledak-ledak Presiden Prabowo, Seberapa Efektif?

“Jika ingin jadi orang yang berpikir kritis dan punya kecakapan emosional, kita harus membaca yang utuh (buku),” tegas Dee.

Ia juga mencermati tren positif, generasi Alpha dan Z mulai muak dengan layar, sebagian banyak yang menjadikan toko buku sebagai tempat nongkrong.

“Tugas penulis adalah membuat bacaan semenarik mungkin. Prestasi bagi saya adalah ketika pembaca bilang mereka tidak bisa berhenti baca sampai lupa cek HP. Penulis harus memberi alasan bagi orang untuk terdistraksi dari gawai mereka lewat karya yang berkualitas,” pungkas Dee.

Saat ini, Dee sedang mengerjakan proyek baru sebuah buku non-fiksi yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

Breezy Cafe Jakarta Escape Dee Lestari Filosofi Kopi Hari Buku Nasional headline Rhenald Kasali Supernova
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKata Pengamat di Balik Euforia Pertumbuhan Ekonomi, Masyarakat Tetap Susah
Next Article Misbakhun Minta BI Perkuat Rupiah, Ariston Tjendra Ungkap Tekanan Global Kian Berat

Berita Lainnya

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Dubes Iran Puji Kepemimpinan Joko Widodo

Toto Pribadi01 April 2026 / 16:42 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.