Jakarta (tutur.co.id) — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menggelontorkan investasi sebesar US$ 26 miliar atau sekitar Rp 437,65 triliun (asumsi kurs Rp 16.833) untuk 20 proyek hilirisasi strategis. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan mampu menciptakan hingga 600 ribu lapangan kerja baru.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan seluruh proyek hilirisasi itu menjadi bagian dari strategi besar untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
“Jadi ini total proyek hilirisasi US$ 26 billion, kurang lebih ini akan mempekerjakan 600 ribu, menciptakan 600 ribu lapangan pekerjaan,” ujar Rosan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Enam Proyek Masuk Tahap Groundbreaking
Dari total 20 proyek, sebanyak enam proyek telah memasuki tahap groundbreaking dengan nilai investasi sekitar US$ 7 miliar atau Rp 117,82 triliun.
Proyek tersebut meliputi: Hilirisasi alumina menjadi aluminium dan pembangunan smelter grade alumina refinery di Mempawah, Produksi bioavtur berbasis Used Cooking Oil (UCO) di Cilacap, Pengembangan bioetanol di Banyuwangi, Bisnis ayam terintegrasi di sejumlah wilayah, dan Pengolahan garam industri di Gresik
Rosan menyebut proyek-proyek awal ini menjadi fondasi percepatan industrialisasi berbasis sumber daya domestik.
Empat Belas Proyek Lain Senilai US$ 19 Miliar
Sementara itu, 14 proyek lainnya memiliki estimasi investasi US$ 19 miliar atau sekitar Rp 319,82 triliun.
Di sektor mineral dan industri, proyek meliputi: Hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), Produksi copper rod, wire, dan tube, Pengolahan aspal Buton,
Produksi besi baja dari pasir besi, Produksi stainless steel slab berbasis nikel, Manufaktur modul surya terintegrasi dari bauksit dan silika, serta Pengolahan manganese sulfate
Di sektor energi, terdapat dua proyek utama yakni pengembangan oil refinery domestik dan peningkatan kapasitas penyimpanan minyak bumi.
Sementara di sektor pangan dan agrikultur, lima proyek mencakup hilirisasi rumput laut menjadi carrageenan, pengembangan turunan minyak sawit, hilirisasi pala menjadi oleoresin, pengembangan ekosistem produksi ikan tilapia, serta hilirisasi kelapa terintegrasi.
“Ini yang dari 20 ini sudah 7 yang sudah dilakukan groundbreaking-nya dan insyaallah berikutnya akan disusul 14 lagi,” kata Rosan.
Fokus Nilai Tambah dan Tata Kelola
Rosan menegaskan hilirisasi akan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional karena Indonesia dapat menangkap seluruh nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.
Menurutnya, proyek-proyek tersebut dijalankan dengan prinsip produktivitas dan efisiensi, serta mengedepankan tata kelola yang baik (good governance) dan transparansi.
“Karena kita ingin meng-capture all the value added yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan productivity and efficiency dengan selalu mengutamakan tentunya good governance,” pungkasnya.
Investasi jumbo Danantara ini menjadi sinyal kuat bahwa agenda hilirisasi tetap menjadi motor transformasi ekonomi Indonesia, sekaligus pendorong penciptaan lapangan kerja dan penguatan struktur industri nasional.

