Jakarta (Tutur.co.id) – Viralnya aksi alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas, membuat program beasiswa dari pemerintah ini ‘naik daun’. Termasuk mengenai universitas-universitas yang menjadi rekanan LPDP dalam program beasiswa dari pemerintah ini.
Plt Direktur Utama LPDP, Sudarto, memang tak hanya memaparkan permasalahan yang tengah menerpa lembaganya itu. Dalam jumpa pers di Kementerian Keuangan, Darto juga memaparkan beberapa catatan menarik terutama bagi para pemburu program beasiswa ini.
Termasuk terkait universitas-universitas unggulan mana saja yang menjadi rekanan mereka saat ini. Mulai dari univesitas yang tersebar di Asia, Amerika Serikat hingga benua Eropa.
“Di Kawasan Asia dan Eropa sejumlah kampus yang menjadi rujukan antara lain University of Tokyo, University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, Technical University of Munich, dan London School of Economics and Political Science,” kata Darto.
Sedangkan untuk universitas unggulan di Amerika Serikat diantaranya Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, University of California Berkeley, Carnegie Institute of Technology, Cornell University, Johns Hopkins University, Harvard University dan Princeton University.
Ia menambahkan, saat ini program beasiswa dengan skema co-founding (patungan dengan universitas) menjadi prioritas mereka mengingat tingginya animo peserta program ini, baik untuk universitas dalam negeri maupun di luar negeri.
“Saat ini LPDP tengah mendiskusikan perluasan kerja sama agar kuota co-funding dapat meningkat hingga sekitar 1.200 penerima per tahun. Jika tercapai, jumlah tersebut bisa mencakup hampir separuh dari total penerima pada kategori tertentu,” kata Darto.
Selain kampus elite di negara berbahasa Inggris, LPDP saat ini juga tengah mendorong awardee dengan mempertimbangkan negara dengan kualitas tinggi dan biaya lebih kompetitif seperti Jerman, Prancis, Tiongkok dan Tokyo.
Negara-negara tersebut dinilai memiliki sistem pendidikan tinggi yang kuat, terutama di bidang sains dan teknologi, dengan struktur biaya yang relatif lebih efisien.

