Jakarta (tutur.co.id) – Film dokumenter Pesta “Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, kini menjadi perbincangan hangat di publik terlebih usai adanya polemik pemutaran di berbagai wilayah Indonesia.
Mengabadikan konflik pembangunan terjadi di Tanah Papua antara masyarakat dan perusahaan yang dimandatkan Presiden Prabowo untuk mensukseskan swasembada pangan dan energi, cukup menyedot rasa penasaran publik.
Film besutan Cypri Paju Dale bekerja sama dengan Dandhy Dwi Laksono sebagai produser kini menjadi sorotan tajam, bahkan aksi pembubaran dilakukan aparat terhadap mereka yang secara kolektif memutarnya secara diam-diam bahkan terbuka.
Secara singkat, film ini bercerita melalui kesaksian beberapa tokoh asli Papua melalui visual mengabadikan realita masyarakat Papua mengalami konflik dengan beberapa perusahaan mengatasnamakan program strategis nasional (PSN), dan hilangnya tanah-tanah adat yang selama ini mereka jaga.
Nama yang santer disebut dalam film ini salah satunya pengusaha tambang pemilik Jhonlin Group Haji Isam. Ia diketahui mendatangkan ratusan unit ekskavator dari China untuk melakukan pembukaan lahan.
Kesaksian itu diungkap oleh Yasinta Moiwend yang terkejut melihat datangnya alat berat diangkut oleh kapal tongkang disusul aparat keamanan yang mengawalnya.
Mereka mengaku sangat kaget sebab sebelumnya masyarakat tak pernah mendengar kabar kedatangan alat berat bahkan tak ada sosialisasi di kampungnya.
“Kami masyarakat setempat tidak tahu. Kaget pagi-pagi kapal sudah ada di pelabuhan kami,” kata Yasinta masyarakat adat.
Lalu cerita datang dari perempuan suku Marind Anim yang terkejut kampungnya seluas 2,5 juta hektar jadi tempat pertama dimulainya pembangunan yang mengatasnamakan lumbung pangan dan kemandirian energi.
Kemudian kesaksian datang dari Vincen Kwipalo yang terkejut tanahnya diambil alih oleh TNI AD lalu disulap menjadi markas batalyon militer untuk menjaga dan mengawal program ambisi Prabowo.
Program tersebut tak berjalan mulus bahkan timbulnya gesekan masyarakat sehingga munculnya “Gerakan Salib Merah” dilakukan oleh para suku yang peduli terhadap tanah kelahirannya.
Setidaknya sudah ada puluhan lebih salib merah sebagai simbol perlawanan, ditancapkan ke lahan yang rencananya akan dialihfungsikan untuk berbagai proyek seperti penanaman tebu, kelapa sawit, dan padi
Tanaman itu rencananya sebagai upaya untuk mewujudkan ambisi Prabowo memiliki lumbung pangan dari adanya tanaman jenis padi, bioetanol dari tebu, dan kelapa sawit untuk biodisel.
Hingga kini, film dokumenter itu masih menjadi polemik dan perdebatan di antara kalangan masyarakat, pejabat, hingga aparat keamanan

