Jakarta (tutur.co.id) – Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI saat ini melakukan sidak ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa pagi 19 Mei 2026. Tampak dalam rombongan itu Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.
Kunjungan ini tentu sangat menarik di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hingga pagi ini masih tertekan. Rombongan sendiri datang ke Gedung BEI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat sekitar pukul 10.30 WIB.
Selain Dasco dan Rosan, tampak juga Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.
“Mencermati perkembangan saat ini bagaimana kita melihat pelemahan IHSG dalam beberapa hari ini, kita melihat sebenarnya masih sejalan dengan tren pelemahan bursa secara regional. Tadi kami juga melihat di atas banyak juga bursa-bursa lain yang turun malah lebih dalam,” kata Friderica Widyasari Dewi di depan awak media.
Ketua Dewan Komisioner OJK itu juga menambahkan, jika ada yang naik itu juga naik tipis pada hari ini. Kondisi ini, lanjutnya, juga terjadi seiring dengan dinamika geopolitik yang terjadi saat ini terutama terkait tensi geopolitik dengan adanya perang di Timur Tengah.
“Dan juga ekspektasi kebijakan moneter secara global yang kita prediksi masih akan terus hawkish. Dan ini juga sentimen dari domestik pasca keputusan rebalancing dari MSCI yang teman-teman kemarin juga perhatikan. Yang dilakukan MSCI di 12 Mei di waktu Amerika yaitu 13 Mei waktu sini. Dan juga kemudian juga terus terjadi ketika kemarin dibuka kembali bursa setelah libur beberapa hari,” terangnya.
Namun menurut Friderica Widyasari, pelemahannya ini masih moderat yaitu di 1,98% pada hari pertama pengumuman MSCI, dan juga kemarin di 1,85% di 18 Mei setelah libur panjang. Dinamika ini menunjukkan penyesuaian yang lebih berbasis fundamental.
“Jadi selalu seperti kami sampaikan, kami menyampaikan bahwa ini adalah konsekuensi logis dari berbagai transformasi di pasar modal yang kita lakukan. Jadi kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental,” ujarnya.
Disampaikan lebih lanjut, pergerakan IHSG juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun subindeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30 dan juga IDX80. Menurutnya ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental di mana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata.
“Jadi ini menurut kami sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan. Dan juga kami bisa sampaikan, ini ada berita bagusnya juga bahwa di tengah berita rebalancing MSCI, saya bisa sharing kepada teman-teman bahwa nilai aktifo bersih NAB Reksadana kita di tahun ini justru meningkat sebesar Rp49,71 triliun yaitu dari net subscription dari investor retail kita. Jadi meningkat sekitar 6,39% sehingga total AUM kita adalah Rp718,44 triliun,” ujar Widyasari.
Juga disampaikan berita baiknya adalah bahwa walaupun ada dinamika seperti saat ini, perspektif investor juga meningkat dalam hal confidence untuk masuk ke market. Hal itu ditandai dengan peningkatan 7 juta investor retail baru di pasar modal kita, sehingga dari year to date penambahannya sudah 7 juta investor baru di pasar modal Indonesia.
“Jadi ini juga melihat bahwa reformasi ini diarahkan untuk memastikan bahwa pasar keuangan Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi ukuran, market size, tetapi juga kita kedepankan dari aspek fundamentalnya integritas, kemudian keterbukaan, dan lain-lain,” pungkas Widyasari.

