Jakarta (tutur.co.id) – Biaya penggantian baterai menjadi salah satu hal penting yang wajib dipahami sebelum membeli kendaraan listrik, baik motor maupun mobil listrik. Pasalnya, baterai merupakan komponen utama sekaligus bagian paling mahal pada kendaraan ramah lingkungan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat. Selain didukung insentif pemerintah, kesadaran masyarakat terhadap kendaraan rendah emisi juga semakin tinggi.
Namun, masih banyak calon pengguna yang ragu beralih ke kendaraan listrik karena khawatir terhadap biaya perawatan, khususnya penggantian baterai.
Padahal, jika dirawat dengan baik, baterai kendaraan listrik memiliki usia pakai yang cukup panjang dan tidak harus sering diganti.
Baterai pada kendaraan listrik berfungsi layaknya “jantung” yang menyuplai tenaga ke seluruh sistem kendaraan.
Saat ini, sebagian besar motor dan mobil listrik modern menggunakan baterai lithium karena dinilai lebih ringan, efisien, memiliki kepadatan energi tinggi, dan daya tahan yang lebih lama dibanding generasi baterai sebelumnya.
Meski demikian, performa baterai tetap bisa menurun seiring waktu, terutama dipengaruhi pola penggunaan, siklus pengisian daya, hingga cara perawatan.
Secara umum, baterai motor listrik memiliki usia pakai sekitar 3 hingga 8 tahun. Sementara baterai mobil listrik rata-rata mampu bertahan 8 sampai 15 tahun tergantung teknologi dan intensitas penggunaan.
Penggantian baterai biasanya dilakukan ketika performanya mulai menurun atau mengalami kerusakan.
Beberapa tanda umum baterai kendaraan listrik mulai bermasalah antara lain:
- Kapasitas baterai turun signifikan
- Jarak tempuh semakin pendek
- Pengisian daya menjadi lebih lambat
- Kendaraan kehilangan performa dan tenaga
Jika kondisi tersebut mulai muncul, pengguna disarankan segera melakukan pengecekan di bengkel resmi agar kerusakan tidak semakin parah.
Agar baterai kendaraan listrik lebih awet dan tidak cepat drop, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pengguna.
1. Jangan Biarkan Baterai Sampai 0 Persen
Pengguna disarankan tidak menunggu baterai benar-benar habis sebelum mengisi ulang daya. Idealnya, pengisian dilakukan ketika kapasitas masih berada di atas 20 persen.
Kondisi baterai yang terlalu sering kosong total dapat memengaruhi stabilitas tegangan dan mempercepat penurunan kapasitas penyimpanan energi.
2. Hindari Pengisian Sampai 100 Persen Terlalu Sering
Meski terlihat aman, kebiasaan mengisi baterai hingga penuh terus-menerus dapat mempercepat degradasi baterai.
Untuk penggunaan harian, pengisian di kisaran 80 hingga 90 persen dinilai lebih ideal untuk menjaga kesehatan sel baterai.
3. Utamakan Slow Charging
Fast charging memang praktis karena mempercepat proses pengisian daya. Namun penggunaan terlalu sering dapat membuat suhu baterai meningkat dan mempercepat penurunan performa.
Karena itu, slow charging lebih direkomendasikan untuk pemakaian rutin.
4. Gunakan Charger Resmi
Pemakaian charger non-original berisiko memicu arus listrik tidak stabil yang dapat merusak baterai maupun sistem kelistrikan kendaraan.
Menggunakan charger resmi dari pabrikan menjadi langkah paling aman untuk menjaga umur baterai.
5. Hindari Parkir di Tempat Panas
Paparan panas berlebih dapat membuat sistem pendingin baterai bekerja lebih keras sehingga memengaruhi performa jangka panjang.
Pengguna disarankan memarkir kendaraan listrik di tempat teduh atau area tertutup agar suhu baterai tetap stabil.
Biaya penggantian baterai motor listrik cukup bervariasi tergantung merek, kapasitas baterai, dan teknologi yang digunakan.
Mengacu pada informasi dari Polytron, harga penggantian baterai motor listrik berkisar antara Rp7 juta hingga Rp18 juta.
Selain harga baterai, biaya tersebut biasanya sudah mencakup jasa pemasangan dan pengecekan sistem kelistrikan kendaraan.
Meski tergolong mahal, sebagian besar baterai motor listrik modern dirancang untuk penggunaan jangka panjang hingga delapan tahun.
Saat ini juga mulai banyak produsen menawarkan skema sewa baterai untuk menekan biaya kepemilikan kendaraan listrik.
Dengan sistem tersebut, pengguna cukup membayar biaya langganan sekitar Rp125 ribu hingga Rp300 ribu per bulan tanpa harus membeli baterai secara penuh.
Sementara itu, biaya penggantian baterai mobil listrik jauh lebih mahal dibanding motor listrik.
Berdasarkan estimasi dari SEVA by Astra, biaya ganti baterai mobil listrik berada di kisaran Rp50 juta hingga Rp300 juta tergantung merek dan kapasitas baterai.
Tingginya biaya penggantian baterai membuat banyak konsumen mempertimbangkan garansi baterai sebelum membeli kendaraan listrik.
Sebagian besar produsen mobil listrik saat ini sudah memberikan garansi baterai hingga delapan tahun, selama penggunaan kendaraan sesuai ketentuan pabrikan.
Meski biaya penggantian baterai kendaraan listrik tergolong tinggi, pengguna sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir selama melakukan perawatan dengan benar.
Pola pengisian daya yang tepat, penggunaan charger resmi, hingga kebiasaan berkendara yang baik dapat membantu menjaga performa baterai tetap optimal dalam jangka panjang.
Dengan perawatan yang tepat, usia baterai kendaraan listrik bisa bertahan lama sehingga pengguna dapat menikmati kendaraan ramah lingkungan dengan biaya operasional yang lebih efisien. (sas)

