Jakarta (tutur.co.id) — Phintraco Sekuritas memprediksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan fluktuatif pada perdagangan Kamis (21/5/2026), menyusul keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
IHSG diperkirakan bergerak pada rentang resistance 6.450, pivot 6.350, dan support 6.200.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menjelaskan IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,5 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI disebut telah berada di area oversold dan berpotensi membentuk Golden Cross. Namun demikian, pelebaran histogram negatif MACD masih terus berlanjut.
“Sehingga diperkirakan IHSG hari ini akan bergerak variatif pada kisaran support 6.200-6.250 dan resistance pada 6.400-6.450,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (21/5/2026).
Phintraco Sekuritas juga menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di DPR RI.
Dalam pidato tersebut, pemerintah menargetkan defisit anggaran tahun 2027 pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027 meliputi:
Pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen
Inflasi 1,5 persen hingga 3,5 persen
Nilai tukar rupiah Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS
Suku bunga SBN tenor 10 tahun pada kisaran 6,5 persen-7,3 persen
Selain RAPBN, pelaku pasar juga mencermati kebijakan pemerintah terkait ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Presiden Prabowo mengumumkan pemerintah akan mewajibkan ekspor SDA dilakukan melalui badan usaha milik negara (BUMN) yang ditunjuk sebagai eksportir tunggal.
Kebijakan tersebut rencananya mulai diterapkan pada komoditas crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi.
“Diperkirakan investor akan cenderung wait and see terlebih dulu menyikapi asumsi RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor SDA tersebut,” tulis Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dinilai sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meredam risiko inflasi, serta menjaga laju inflasi tetap dalam target pemerintah.
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak April 2024 dan berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan BI Rate hanya naik menjadi 5 persen.
Meski demikian, Phintraco Sekuritas mengingatkan investor untuk mencermati dampak lanjutan kenaikan BI Rate terhadap nilai tukar rupiah maupun sektor-sektor tertentu.
“Perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap sektor properti dan perusahaan yang banyak memiliki utang,” jelas Phintraco Sekuritas.
Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan tercatat meningkat menjadi 9,98 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2026 dari 9,49 persen yoy pada Maret 2026.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, Phintraco Sekuritas merekomendasikan investor mencermati peluang cuan pada lima saham berikut:
Bukit Asam (PTBA)
Ciputra Development (CTRA)
Unilever Indonesia (UNVR)
Bank Tabungan Negara (BBTN)
Wismilak Inti Makmur (WIIM)

