Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG diperkirakan kembali tertekan pada perdagangan Senin (27/4/2026) dengan rentang pergerakan di level 7.000–7.240, seiring masih kuatnya tekanan teknikal dan sentimen global.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menilai, peluang pelemahan masih terbuka karena terdapat area gap yang belum tertutup di sekitar level psikologis 7.000. “Secara teknikal, tekanan IHSG berpotensi kembali terjadi karena masih ada gap di area 7.000,” tulisnya.
Sentimen eksternal juga masih membayangi pasar, terutama terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. Pernyataan Iran yang menolak bernegosiasi di bawah tekanan serta langkah Amerika Serikat yang membatalkan kunjungan utusan khusus mencerminkan ketegangan yang belum mereda, sehingga memicu kehati-hatian investor global.
Di sisi lain, pergerakan bursa global memberikan sinyal beragam. Wall Street ditutup variatif, dengan Nasdaq menguat 1,61% dan S&P 500 naik 0,80%, sementara Dow Jones justru melemah 0,16%.
Pada penutupan akhir pekan lalu, IHSG terkoreksi 3,38% ke level 7.129 dengan tekanan jual investor asing mencapai Rp 3,02 triliun. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS, serta dinamika penyesuaian indeks yang kini lebih mempertimbangkan faktor likuiditas, free float, dan distribusi kepemilikan saham.
Meski pasar tertekan, sejumlah saham masih mencatatkan kenaikan signifikan. Saham PSDN melesat 34,46%, BRNA naik 24,41%, dan BNBA menguat 24,46%. Selain itu, CTTH naik 23,85% dan SMMT menguat 13,02%.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ANTM, BFIN, dan ELSA dengan target harga masing-masing di kisaran Rp4.160–4.270, Rp845–870, dan Rp815–835.
Dengan kombinasi tekanan global dan teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah, sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko.

