Jakarta (tutur.co.id) — Bank Indonesia (BI) memperkuat peran Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen utama untuk menarik aliran dana asing, di tengah tekanan global yang semakin meningkat.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah derasnya arus keluar modal.
“Kami harus juga membalas antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi, dan juga bagaimana supaya outflow itu tidak terlalu buruk,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Tekanan terhadap rupiah sendiri tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$100 per barel serta lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat telah membuat investor global menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam situasi tersebut, SRBI kembali diandalkan sebagai instrumen “penarik” dana asing. Dengan imbal hasil yang kompetitif, BI berharap investor global tetap melihat aset rupiah sebagai pilihan menarik.
Kebijakan ini, jika efektif, berpotensi menahan pelemahan rupiah. Masuknya dana asing tidak hanya memperkuat pasar valas, tetapi juga memberi sinyal kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Namun, penguatan SRBI juga membawa implikasi ke pasar keuangan lain.
Di pasar obligasi, langkah ini dapat membantu meredam tekanan jual pada Surat Berharga Negara (SBN), seiring meningkatnya minat investor terhadap instrumen berbasis rupiah. Meski begitu, ada kemungkinan sebagian dana justru tertahan di SRBI yang berjangka lebih pendek.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa kebijakan ini memang diarahkan untuk menjaga daya tarik seluruh instrumen keuangan domestik.
“Kita ingin saham, SBN, dan SRBI juga bisa diminati oleh pihak asing agar mereka mendukung upaya lebih stabil dan nanti menguat (rupiah),” ujarnya.
Sementara itu, dampaknya terhadap pasar saham cenderung lebih dinamis. Stabilitas rupiah biasanya menjadi katalis positif bagi investor, terutama asing. Namun, di sisi lain, peningkatan imbal hasil instrumen seperti SRBI dapat mengalihkan sebagian dana dari pasar saham.
Kondisi ini membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi tetap fluktuatif dalam jangka pendek, mengikuti arah arus modal global.
Meski BI memastikan likuiditas perbankan tetap memadai, pasar kini berada dalam fase penyesuaian—di mana stabilitas menjadi prioritas utama, sementara dorongan pertumbuhan cenderung dinomorduakan.
Melalui langkah ini, BI tampak mengirim sinyal jelas: di tengah gejolak global, menjaga rupiah tetap stabil menjadi fondasi utama sebelum pasar keuangan kembali menguat secara menyeluruh.

