Jakarta (tutur.co.id) — Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Februari 2026. Proyeksi ini muncul di tengah lonjakan inflasi awal tahun serta derasnya arus modal keluar akibat sentimen global dan domestik.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebut inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), melampaui rentang target BI. Kenaikan tersebut terutama dipicu efek basis rendah (low-base effect) setelah diskon tarif listrik 50% bagi kelompok rumah tangga tertentu pada Januari–Februari tahun lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.
“Melihat kondisi saat ini, Bank Indonesia sebaiknya mempertimbangkan menahan suku bunga acuannya di 4,75% pada RDG mendatang sebagai langkah yang tepat, mengingat pemotongan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar,” ujar Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi RDG BI Edisi Februari 2026 yang diterima Kamis (19/2/2026).
Tekanan Eksternal dan Sentimen Investor
Dari sisi eksternal, pasar keuangan domestik berada dalam tekanan setelah pengumuman oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta penurunan penilaian kondisi ekonomi Indonesia oleh Moody’s. Kedua lembaga tersebut menyoroti peningkatan kekhawatiran atas kelayakan investasi, kapasitas institusi, serta koherensi dan transparansi kebijakan.
Pasca pengumuman MSCI, arus modal keluar dari pasar saham Indonesia tercatat mencapai US$1,01 miliar. Sementara itu, perubahan penilaian dari Moody’s memicu arus keluar dari pasar obligasi sebesar US$0,37 miliar. Secara kumulatif, dalam 30 hari terakhir Indonesia mencatatkan arus modal keluar sebesar US$1,06 miliar.
Tekanan tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun sebesar 6 basis poin, dari 6,31% pada 19 Januari menjadi 6,40% per 13 Februari 2026.
Menurut Riefky, pemangkasan suku bunga di tengah tekanan eksternal berisiko memperdalam arus modal keluar sekaligus melemahkan stabilitas nilai tukar. “Berbagai daerah juga masih dalam tahap pemulihan pasca-bencana, sehingga ruang pelonggaran moneter menjadi semakin terbatas,” katanya.
Isu Independensi dan Kepercayaan Pasar
LPEM juga menyoroti faktor domestik yang dinilai turut memengaruhi sentimen investor, yakni penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Thomas diketahui merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.
Riefky menilai munculnya keraguan terkait independensi bank sentral berpotensi memperburuk kepercayaan pasar. “Munculnya keraguan terkait independensi bank sentral seiring dengan dilantiknya keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur juga memperburuk tingkat kepercayaan investor dan memperparah arus modal keluar,” ujarnya.
Ruang Pelonggaran Kian Sempit
Dalam RDG 20–21 Januari 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, suku bunga Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,5%. Sejak September 2024, BI-Rate telah turun total 150 basis poin, termasuk 125 basis poin sepanjang 2025, sehingga mencapai level terendah sejak 2022.
Dengan inflasi yang kembali meningkat, tekanan modal asing, serta sorotan terhadap independensi kebijakan moneter, ruang pelonggaran suku bunga dinilai semakin terbatas. Dalam konteks tersebut, LPEM memandang langkah paling rasional bagi BI saat ini adalah menjaga stabilitas melalui penahanan suku bunga, sembari mencermati dinamika global dan respons pasar dalam jangka pendek.
Keputusan RDG Februari ini akan menjadi penanda arah kebijakan moneter Indonesia di tengah persimpangan antara menjaga momentum pertumbuhan dan mempertahankan kredibilitas stabilitas makroekonomi.

