Surabaya (tutur.co.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat komitmen membangun sumber daya manusia melalui kebijakan beasiswa yang menyasar mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Komitmen tersebut ditegaskan lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan 8 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 24 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya, Kamis (5/2/2026).
Kebijakan yang diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Beasiswa Pemuda Tangguh ini mendapat sambutan positif dari kalangan pimpinan perguruan tinggi. Program tersebut dinilai sebagai langkah konkret untuk mencegah mahasiswa putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi sekaligus menjadi fondasi penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045.
Salah satu poin krusial dalam kebijakan ini adalah penghapusan dikotomi antara mahasiswa PTN dan PTS. Selama memenuhi kriteria dan ber-KTP Surabaya, mahasiswa berhak mendapatkan dukungan biaya pendidikan tanpa melihat institusi tempat mereka menempuh studi.
Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Harjo Seputro, menilai kebijakan ini sebagai solusi nyata atas persoalan klasik pendidikan tinggi, yakni risiko drop out karena faktor finansial. Dari Untag Surabaya, sebanyak 543 mahasiswa tercatat sebagai penerima manfaat program beasiswa tersebut.
Menurut Harjo, bantuan biaya kuliah akan dilengkapi dengan upaya peningkatan kompetensi mahasiswa. Untag Surabaya telah menyiapkan program penguatan keterampilan selama tiga hingga enam bulan sesuai bidang keilmuan, termasuk pelibatan mahasiswa penerima beasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat dosen. Langkah ini ditujukan agar mahasiswa tidak hanya bertahan secara akademik, tetapi juga siap bersaing setelah lulus.
Apresiasi serupa disampaikan Rektor Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Budi Endarto. Ia menilai kebijakan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebagai terobosan fundamental dalam tata kelola pendidikan tinggi. Menurutnya, orientasi kebijakan yang berfokus pada warga Surabaya sebagai subjek pendidikan mencerminkan keadilan sosial yang lebih merata.
UWP sendiri mengajukan sekitar 512 mahasiswa ber-KTP Surabaya untuk mengikuti program tersebut. Budi menekankan pentingnya sinergi peran antara pemerintah dan perguruan tinggi, di mana pemerintah berperan sebagai investor sosial, sementara kampus bertanggung jawab memastikan proses pendidikan berjalan optimal hingga lulusan siap memasuki dunia kerja atau magang.
Dari sisi perguruan tinggi swasta lainnya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Trianggoro Wiradinata, menyoroti peran strategis beasiswa ini bagi mahasiswa yang mengalami guncangan ekonomi mendadak akibat musibah atau perubahan kondisi keluarga. Ia menyebut, latar belakang mahasiswa yang beragam menuntut adanya sistem perlindungan agar potensi akademik tidak terhenti di tengah jalan.
UC Surabaya telah melakukan proses verifikasi ketat melalui wawancara dan kunjungan lapangan terhadap 63 mahasiswa yang diajukan sebagai penerima beasiswa. Trianggoro berharap bantuan tersebut dapat menjadi pemicu semangat bagi mahasiswa untuk tetap berprestasi dan menyelesaikan studi tepat waktu.
Melalui kerja sama antara Pemkot Surabaya dan puluhan perguruan tinggi ini, para pimpinan kampus sepakat untuk terus bergotong royong mendukung visi pembangunan pendidikan yang inklusif. Program beasiswa Pemuda Tangguh diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek atas persoalan biaya kuliah, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan dan menjamin masa depan generasi muda Surabaya. (sas)

