Jakarta (tutur.co.id)- Di awal Ramadan, bangun sahur mungkin masih terasa ringan. Alarm berbunyi, mata memang berat, tetapi tubuh masih bisa diajak bangkit. Namun memasuki hari ke-10 dan seterusnya, suasananya sering berbeda.
Alarm berbunyi, tangan Anda refleks mematikannya. Lima menit lagi, pikir Anda. Tanpa sadar, azan sudah berkumandang.
Jika Anda mengalaminya, Anda tidak sendiri.
Memasuki 10 hari kedua Ramadan, banyak orang mulai merasakan bangun sahur jauh lebih berat dibandingkan awal puasa. Ini bukan semata soal niat yang melemah, melainkan tentang tubuh yang mulai “menagih” waktu istirahat yang tertunda.
Mengapa Sahur Terasa Semakin Berat?
1. Jam tidur yang makin mundur
Pada awal puasa, banyak orang masih berusaha disiplin. Setelah tarawih, langsung beristirahat. Namun seiring berjalannya waktu, pola mulai bergeser.
Ada pekerjaan yang diselesaikan setelah anak tidur. Ada waktu pribadi yang terasa sayang jika dilewatkan. Tanpa terasa, jam tidur menjadi semakin larut, sementara waktu bangun tetap sama. Di sinilah defisit tidur mulai terjadi.
2. Akumulasi kurang tidur
Kurang tidur tidak selalu terasa di hari pertama atau kedua. Namun jika berlangsung berhari-hari, tubuh akan menyimpan “utang”. Memasuki pertengahan Ramadan, dampaknya mulai nyata. Anda mulai sulit bangun, kepala terasa berat, tubuh terasa dipaksa untuk bergerak.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dewasa yang secara konsisten tidur kurang dari durasi yang direkomendasikan berisiko mengalami gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, serta kelelahan berlebihan di siang hari. Rekomendasi umum untuk orang dewasa adalah sekitar 7 jam atau lebih per malam. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi selama beberapa hari berturut-turut, tubuh akan menunjukkan tanda-tandanya, salah satunya melalui rasa berat saat bangun.
3. Ritme sirkadian yang berubah
Tubuh memiliki ritme alami yang mengatur kapan waktu tidur dan bangun. Selama Ramadan, pola makan dan tidur berubah cukup drastis. Tubuh memang mampu beradaptasi, tetapi prosesnya tidak instan. Pada fase pertengahan ini, tubuh sedang mencari keseimbangan baru.
4. Dehidrasi ringan
Asupan cairan yang kurang saat berbuka hingga sahur juga berpengaruh. Dehidrasi ringan dapat membuat Anda merasa lebih lemas saat bangun. Terlebih jika pola makan didominasi makanan manis dan kurang air putih.
Jika satu atau dua kali Anda terlambat bangun sahur, itu bukan tanda kegagalan. Tubuh Anda sedang beradaptasi. Menjaga kesehatan dan kualitas istirahat juga bagian dari ikhtiar agar ibadah tetap optimal.

