Jakarta (tutur.co.id) – Beberapa tahun terakhir bisa dibilang menjadi era keemasan bagi industri perfilman Indonesia. Jika satu dekade lalu bioskop kita didominasi film Hollywood, kini peta telah berubah drastis. Film lokal tidak lagi menjadi “anak tiri”, melainkan menu utama yang paling diburu.
Melihat data berbagai jaringan bioskop, film-film Indonesia secara konsisten memuncaki tangga box office mingguan. Bahkan, beberapa film lokal mampu bertahan di layar hingga lebih dari satu bulan karena permintaan. Pertanda film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Kementerian Kebudayaan mencatat penonton film Tanah Air mencapai 80,270 juta pada tahun 2025. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut jumlah yang hampir sama juga diraih pada tahun sebelumnya. Hal ini menandakan kalau penonton Indonesia stabil.
Bahkan sejumlah film juga mencatat prestasi di berbagai festival internasional, sementara film animasi nasional mencetak rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Film “Pangku” menorehkan prestasi pada ajang Busan International Film Festival, sementara animasi “Jumbo” menjadi film terlaris di dalam negeri tahun lalu.
“Jadi, paling tidak penonton Indonesia stabil ini menunjukkan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Film Indonesia sekarang ini selalu hadir dalam berbagai festival film internasional,” kata Fadli Zon dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026” di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Kementerian Kebudayaan terus mendukung ekosistem perfilman melalui fasilitasi festival, pasar film, hingga penguatan manajemen talenta. Fadli Zon mengatakan dukungan diharapkan dapat memperkuat jejaring, mempromosikan karya, memperkuat posisi Indonesia di perfilman dunia.
Minat masyarakat menonton film di bioskop yang masih tinggi, menurut sang menteri menjadi hal yang penting bagi ekonomi budaya Indonesia dan dapat mendukung keberlangsungan ekosistem perfilman.
Lebih lanjut Fadli Zon menegaskan komitmen untuk memastikan akses kebudayaan yang inklusif bagi seluruh warga negara, sejalan dengan prinsip no one left behind (tidak ada seorangpun yang tertinggal) dan memperkuat peran generasi muda sebagai aktor utama masa depan kebudayaan Indonesia.

